Inisiatif kolaboratif ini menggaet Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), serta PT Bank Central Asia Tbk (BCA) lewat Bakti BCA, dengan pelaksanaan di lapangan oleh Wahana Visi Indonesia.
Baca Juga: Cegah Stunting di Pengungsian, YAICI Desak Regulasi Khusus Pemulihan Gizi Anak Pasca-Bencana
Tingginya angka stunting di Kubu Raya menjadi alasan utama intervensi ini dilakukan.
Menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi balita stunting di Kubu Raya menyentuh angka 30,2%.
Angka tersebut terbilang cukup tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata provinsi Kalimantan Barat (26,8%) maupun capaian nasional (19,8%).
Upaya keras ini mendapat respons positif dari jajaran pemerintah setempat. Bupati Kubu Raya, H. Sujiwo, S.E., M.Sos., menyatakan apresiasinya terhadap langkah konkret para mitra.
“Pemerintah Kabupaten Kubu Raya sangat mengapresiasi Tanoto Foundation, AMMAN Mineral, dan Bank BCA, beserta Wahana Visi Indonesia, yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Kami harap dampak yang dihasilkan oleh Program PASTI nantinya dapat kami replikasi di wilayah-wilayah lain, sehingga dapat semakin menurunkan angka stunting di seluruh Kabupaten Kubu Raya,” ungkap Sujiwo.
Pendekatan program berfokus pada fase krusial tumbuh kembang anak, yakni periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Langkah ini dinilai sangat menentukan kualitas generasi masa depan.
Michael Susanto selaku Head of Early Childhood Education and Development (ECED) Tanoto Foundation menekankan pentingnya pencegahan sejak dini.
“Pencegahan stunting harus sedini mungkin dan didukung kolaborasi kuat di tingkat masyarakat, sebagaimana yang dilakukan di Kubu Raya. Masa depan seorang anak ditentukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), ketika otak membentuk lebih dari satu juta koneksi saraf setiap detik sebagai fondasi kemampuan belajar, kesehatan, dan produktivitasnya. Karena itu, stunting harus dicegah sedini mungkin. Jika empat desa model di Kubu Raya berhasil, kami optimistis praktik baik ini dapat direplikasi, tidak hanya di 27 desa model Program PASTI, tetapi juga di lebih banyak desa di seluruh Indonesia,” ujar Michael.
Baca Juga: Mendagri Minta Pemda Dukung Penuh Program MBG demi Pengentasan Stunting dan Kemiskinan
Langkah ini juga sejalan dengan komitmen sektor swasta dalam menciptakan investasi sosial berjangka panjang. Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, menyebut peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai prioritas utama.
“Bangsa Indonesia dan juga pastinya fokus dari berbagai perusahaan di Indonesia, salah satunya AMMAN, terus memerlukan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berkualitas di masa depan. Bagi AMMAN, pencegahan stunting menjadi investasi sosial yang diharapkan dapat memberikan dampak positif berkelanjutan bagi generasi penerus bangsa ini. Oleh sebab itu, AMMAN ikut berkontribusi untuk menjaga anak-anak Indonesia dari stunting sejak dini, bahkan sejak sebelum dilahirkan. Hal ini sesuai dengan visi misi keberlanjutan perusahaan dalam pengembangan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing tinggi di sekitar operasional tambang khususnya, dan Indonesia pada umumnya,” papar Aji.
Senada dengan hal tersebut, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyoroti pentingnya kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan secara berkelanjutan.
“Program PASTI sejalan dengan salah satu pilar dalam pelaksanaan Bakti BCA, yaitu meningkatkan kualitas dan daya saing SDM. Dengan beberapa strategi yang dilakukan lewat Program PASTI, BCA optimistis dampak yang akan terasa adalah terciptanya masyarakat yang lebih produktif dan mandiri, yang mampu menjaga kualitas kesehatan generasi berikutnya secara berkelanjutan,” tutur Hera.
Dampak positif dari program ini pun dirasakan langsung oleh warga, salah satunya melalui skema Pos Gizi DASHAT (PGD).
Susanti (24), seorang ibu peserta PGD di Kubu Raya, membagikan cerita keberhasilannya.
“Saya senang sekali ikut PGD. Setelah mengikuti kegiatan ini, berat anak saya naik hingga 800 gram. Sebelumnya, berat anak saya sulit naik karena nafsu makannya kurang. Setelah ikut PGD dan belajar berbagai menu, saya mencoba mempraktikkannya di rumah dan ternyata anak saya suka. Sekarang nafsu makan anak saya meningkat,” aku Susanti.
Selain menyasar orang tua dan balita, Program PASTI juga aktif melibatkan generasi muda sebagai agen perubahan, termasuk peran Duta Generasi Berencana (GenRe) untuk mengedukasi remaja terkait gizi, pencegahan anemia, hingga bahaya pernikahan anak.
Direktur Bina Lini Lapangan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), dr. Nurizky Permanajati, M.H., menyambut baik keterlibatan anak muda ini.
“Kami sangat mengapresiasi digandengnya generasi muda, termasuk para Duta Generasi Berencana Kemendukbangga, pada Program PASTI. Pasalnya, para anak muda inilah yang nantinya menjadi calon orang tua bagi anak-anak, dan keterlibatan mereka memastikan risiko stunting tidak diturunkan ke generasi selanjutnya. Guna semakin mendukung program ini, kami siap memberikan akses data agar replikasi program ini dapat dilakukan di daerah-daerah lain,” jelas dr. Nurizky.
Program Manager PASTI, Hotmianida Panjaitan, menambahkan bahwa penanganan stunting memerlukan sudut pandang yang lebih luas.
“Pengentasan stunting bukan sekadar permasalahan internal keluarga. Pasalnya, selain latar belakang ekonomi dan edukasi, faktor-faktor eksternal turut menjadi penyebab masalah kegagalan tumbuh kembang anak ini. Dua di antaranya adalah akses ke bahan pangan bergizi dan isu pernikahan anak yang menjadi fokus Program PASTI,” tegas Hotmianida.
Rangkaian kunjungan ini turut dimeriahkan dengan pertunjukan teaterikal remaja, sesi Gallery Walk, hingga peninjauan langsung kebun gizi pekarangan dan budidaya ayam petelur warga yang menjadi penopang asupan gizi lokal secara mandiri.