Gaji Baru Masuk tapi Langsung Habis? 8 Kebiasaan Finansial Ini Mungkin Terbentuk Sejak Kecil

2026/10/03

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:10 WIB

Jakarta, VIVA – Orang yang menghabiskan uang lebih cepat daripada kemampuan mereka menghasilkan uang mungkin tidak selalu menyadari dari mana kebiasaan tersebut berasal. Sejumlah pola dalam mengelola keuangan ternyata dapat terbentuk sejak masa kanak-kanak, termasuk dari cara orang tua menggunakan uang di rumah.

Baca Juga

Anak memang belum memahami konsep keuangan secara mendalam. Namun, mereka mengamati apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya. Cara orang tua berbelanja, menggunakan kartu kredit, memberi hadiah, hingga menghadapi kebosanan bisa ikut membentuk pandangan anak mengenai uang ketika mereka tumbuh dewasa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut penelitian dari University of Michigan, anak mulai membangun kebiasaan dan sikap terhadap uang sejak usia dini. Melansir dari Yourtango, Berikut beberapa kebiasaan finansial yang mungkin terbawa hingga dewasa.

Baca Juga

1. Menggunakan uang untuk mencari kenyamanan

Belanja terkadang dijadikan pelarian ketika seseorang sedang sedih, stres, bosan, atau merasa tidak nyaman. Kebiasaan tersebut dikenal luas sebagai retail therapy.

Baca Juga

Masalahnya, jika anak terus melihat orang tua mengatasi emosi dengan berbelanja, mereka dapat menganggap membeli sesuatu sebagai cara utama untuk merasa lebih baik. Ketika dewasa, pola ini berpotensi membuat seseorang mengeluarkan uang setiap kali menghadapi emosi yang tidak menyenangkan.

2. Membeli sesuatu sebagai bentuk penghargaan

“Sudah bekerja keras, jadi boleh membeli sesuatu.” Kalimat seperti ini terdengar sederhana, tetapi jika terus dibiasakan, anak dapat menghubungkan pencapaian dengan aktivitas belanja.

Saat dewasa, mereka mungkin memberikan hadiah kepada diri sendiri dengan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan setiap kali berhasil menyelesaikan sesuatu. Akibatnya, pengeluaran bisa meningkat tanpa benar-benar disadari.

3. Menganggap diri “pantas” membeli sesuatu

Kalimat “Saya pantas mendapatkannya” bisa menjadi pembenaran yang kuat untuk berbelanja.

Padahal, merasa pantas mendapatkan sesuatu tidak selalu berarti keputusan membeli barang tersebut tepat secara finansial. Jika sejak kecil anak melihat orang tua menggunakan alasan serupa untuk berbelanja, pola pikir tersebut bisa terbawa sampai dewasa, bahkan ketika kondisi keuangan sedang tidak sehat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

4. Mendahulukan kesenangan daripada membayar tagihan

Anak yang terbiasa melihat orang tua menghabiskan uang segera setelah menerima gaji dapat menganggap momen tersebut sebagai kesempatan untuk bersenang-senang.

Halaman Selanjutnya

Ketika dewasa, mereka mungkin mengulangi pola yang sama. Uang baru masuk rekening langsung digunakan untuk belanja, makan, atau hiburan, sementara tagihan dan kebutuhan penting dipikirkan belakangan.