Fokus Akuisisi Tambang Emas, Belanja Modal Astra Tembus Rp16,9 Triliun |Republika Online

2026/09/10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Astra International Tbk (Astra) mencatat realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp16,9 triliun sepanjang semester I 2026. Presiden Direktur Astra International Rudy Chen mengatakan sebagian besar di antaranya, yakni Rp11,7 triliun digunakan untuk mengakuisisi perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam melalui anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR). Sementara, sebesar Rp5,2 triliun digunakan untuk pembelian alat berat yang mendukung bisnis kontraktor pertambangan.

“Jadi (capex) Rp11,7 triliun mayoritas untuk akuisisi tambang emas yaitu Arafura Surya Alam oleh grupnya United Tractors, dan Rp5,2 triliun untuk capex rutin yaitu pembelian alat berat untuk bisnis kontraktor pertambangan,” kata Rudy dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Untuk tahun buku 2026, Astra mengalokasikan anggaran capex sekitar Rp36 triliun. Mayoritas anggaran tersebut dialokasikan untuk bisnis alat berat dan kontraktor pertambangan.

“Bisa dibilang mayoritas capex yang digunakan untuk maintenance itu dialokasikan di pilar alat berat kontraktor pertambangan, sedangkan untuk investasi itu masukin sektor-sektor strategis dengan melihat kondisi yang memungkinkan dan relevan dengan kami,” jelas Rudy.

Ia menambahkan, perseroan akan menggunakan anggaran capex secara hati-hati dengan mempertimbangkan kebutuhan bisnis, peluang pertumbuhan, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi grup.

“Seperti biasanya kami melakukan ini secara prudent, sesuai dengan kebutuhan bisnis, peluang pertumbuhan dan tentunya penciptaan nilai jangka panjang untuk grup," tambahnya.

Adapun pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp157,9 triliun, turun 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih, tidak termasuk pos non-recurring items, tercatat Rp14,9 triliun atau turun 7 persen secara tahunan.

Meski hampir seluruh bisnis mencatatkan kinerja yang baik, kinerja Grup Astra secara keseluruhan terdampak oleh penurunan kontribusi bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat.

Penurunan tersebut mencerminkan minimnya kontribusi dari divisi pertambangan emas, penurunan penjualan alat berat, serta penurunan volume pada divisi jasa penambangan dan pertambangan batu bara.

Perseroan juga mencatat non-recurring items sebesar Rp2,4 triliun yang terutama berasal dari penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas dan penurunan nilai atau impairment.

Dengan memperhitungkan non-recurring items tersebut, laba bersih Grup Astra tercatat sebesar Rp12,5 triliun, turun 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

sumber : Antara