Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan pengakses layanan krisis psikologis Healing 119 hingga memicu antrean panjang. Peningkatan kebutuhan konseling ini terjadi seiring meningkatnya temuan kasus kesehatan jiwa setelah pemerintah meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa masalah mental yang selama ini tidak terdeteksi kini mulai bermunculan ke permukaan. Kemenkes pun berencana menambah kapasitas saluran Healing 119 serta memperkuat layanan di tingkat pertama untuk mengatasi keterbatasan fasilitas yang ada saat ini.
"Kelihatan bahwa memang ada masalah kesehatan jiwa, dan cukup banyak. Yang perlu kita lakukan sebenarnya, karena jiwa ini kan perlu konseling ya, kita membutuhkan lebih banyak lagi ahli-ahli jiwa untuk bisa melakukan treatment ini," ujar Budi, dilansir DetikHealth, dikutip Sabtu (19/9/2026).
Kapasitas layanan kesehatan mental diakui masih terbatas lantaran belum pernah dilakukan pemetaan skala besar terhadap kondisi psikis masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah berencana menambah kapasitas saluran konseling Healing 119 sekaligus memperkuat fasilitas layanan di tingkat pertama.
"Ini butuh waktu ya, nggak bisa langsung otomatis lengkap, tapi secara bertahap keputusan itu sudah dibikin. Khususnya yang mengenai yang call Healing 119, kita akan menambah kapasitasnya. Kita akan ngomong dengan organisasi profesi untuk kesehatan jiwa," imbuhnya.
Budi juga menargetkan seluruh Puskesmas kelak diperkuat oleh tenaga medis yang tidak hanya berfokus mengobati penyakit fisik, melainkan juga siap menangani persoalan psikis masyarakat.
Antrean Mengular
Keterbatasan kapasitas layanan konseling tersebut terlihat dari ketimpangan antara jumlah petugas dan pengakses di lapangan. Petugas psikolog yang bersiaga hanya berjumlah 5 orang dalam satu shift berdurasi 3 jam, sedangkan pengakses layanan mencapai 500 hingga 600 orang per shift.
"Dalam satu shift, psikolognya mungkin paling cuma 5 orang. Satu shift itu 3 jam, nah yang mengakses satu shift itu bisa 500 sampai 600 orang," ungkap Psikolog Anak, Sari Sani.
Kondisi tersebut memaksa pengelola layanan membatasi durasi konseling maksimal 30 menit bagi setiap pasien. Langkah pembatasan durasi tersebut diambil agar jumlah masyarakat yang dapat tertangani oleh petugas tidak semakin sedikit.
"Kami juga terus terang kaget ketika datanya kemudian sudah terkumpul. Pengaksesnya semudah ini ternyata," tambah Sari.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]