Para ahli menyoroti beberapa alasan psikologis yang mendasari perilaku “doom spending”. Salah satunya adalah kecemasan eksistensial dan persepsi kurangnya kontrol. Perasaan tidak berdaya dan ketidakpastian ini diperkuat oleh paparan berita negatif yang tiada henti, memicu pencarian kelegaan melalui perilaku yang merangsang jalur penghargaan otak. Dennis Kaufman, seorang profesor ekonomi di University of Wisconsin-Parkside, menjelaskan bahwa bagian “doom” dari istilah ini mencerminkan ekspektasi masyarakat terhadap perlambatan ekonomi, bahkan resesi.
Selain itu, belanja uang memicu jalur penghargaan yang sama seperti perjudian, menciptakan perilaku yang menyerupai kecanduan dan semakin sulit ditolak seiring waktu. Amanda LaMela dan Dani Saliani dari Phidaly Counseling menambahkan bahwa individu mungkin mencari kenyamanan instan melalui pembelian, meniru perilaku yang terlihat pada kecanduan dan gangguan kompulsif.
Alasan lain adalah ilusi kemakmuran. “Doom spending” memungkinkan seseorang berpura-pura memiliki lebih banyak uang daripada yang sebenarnya, menciptakan fantasi berbahaya di mana saldo rekening bank seolah tidak penting. Ini menciptakan ilusi kekayaan sementara, bahkan saat berutang untuk melakukannya, yang justru membuat seseorang semakin miskin.
Giovanna González, penulis buku Cultura & Cash, mengidentifikasi mentalitas “buat apa menabung?” sebagai pemicu. Menurutnya, “doom spending” adalah respons terhadap pandangan buruk tentang masa depan keuangan atau kondisi bumi, dengan pemikiran, “Apa gunanya menabung untuk masa depan?” Pemikiran ini berlanjut menjadi, “Saya hanya akan menghabiskan uang sekarang dan tidak khawatir tentang tujuan jangka panjang seperti pensiun atau membeli rumah.” Sebuah studi bahkan menunjukkan bahwa 73% anak muda Amerika lebih memilih menikmati uang mereka sekarang daripada menabung untuk nanti.
Pengaruh media sosial juga berperan besar. Courtney Alev, advokat keuangan konsumen di Credit Karma, mengatakan bahwa seperti “doom scrolling”, orang berbelanja tanpa berpikir untuk menenangkan kekhawatiran tentang ekonomi dan urusan luar negeri, yang dapat berdampak buruk pada kesejahteraan finansial mereka. Media sosial sering menampilkan gambaran ideal tentang kemewahan dan kesuksesan, yang dapat memicu keinginan untuk berbelanja.