Sawahlunto (ANTARA) - Di bawah sinar matahari yang tertutup kabut asap, Dian membersihkan panel surya dengan sapu. Bekas daun-daun kering dan abu harus dibersihkan rutin agar penyerapan panas maksimal. Di sana terdapat 142 keping panel yang berada pada ketinggian 234 meter di atas permukaan laut.
Setelah membersihkan panel surya, Dian sebagai pengelola mengecek pompa yang menyedot air sungai Batang Ombilin untuk dialirkan ke sawah ladang masyarakat.


PLTS irigasi di Desa Talawi Mudik, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat yang dibangun PT Bukit Asam (Persero) Tbk pada 2019 itu berkapasitas 18,7 kilowatt peak (kWp) dan berdampak bagi kurang lebih 460 orang yang terdiri dari 115 petani dan 345 anggota keluarga dari masing-masing petani.
Air dialirkan dengan bantuan pompa irigasi tenaga surya berkapasitas 50 lps (liter per second) atau 50 liter/detik dengan head 50 meter yang dioperasikan melalui rumah panel kontrol 1 unit, panel surya, dan pipanisasi sepanjang 1,2 kilometer.


Air ini mengalir langsung ke lokasi tertinggi kemudian dialirkan ke pesawahan dan ladang. Air juga mengalir ke bak penampungan di dataran tinggi agar warga dapat menggunakannya saat pompa irigasi tidak menyala.
Petani mengaku, dulu total hasil panen dari 62 ha sawah yang teraliri hanya sekitar 248 ton gabah per tahun dengan mengandalkan air dari hujan sehingga panen hanya sekali setahun.

Setelah ada PLTS irigasi, hasil panen dapat mencapai kurang lebih 1.000 ton per tahun dari 3 kali panen.
Irigasi ini juga dinilai sangat efektif dan efisien, karena bukan saja petani padi, kangkung, jagung, terung, cabe, dan palawija yang terdampak, tetapi peternak sapi juga sangat terbantu.


Menurut petani, PLTS irigasi sempat mengalami kerusakan selama enam bulan sehingga membuat distribusi air terhenti. Tentu hal tersebut membuat lahan pertanian terganggu. Namun setelah diperbaiki, petani kembali bisa bernapas lega.
Keberadaan PLTS irigasi itu menjadi wujud kepedulian lingkungan PT Bukit Asam (Persero) sebagai anggota Holding BUMN Pertambangan MIND ID yang juga memiliki visi untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan.


Sejak beroperasi, PLTS irigasi di Desa Talawi Mudik masih terawat dengan baik berkat kerja sama dengan warga setempat.
Setiap kali panen, ada kontribusi 1 kilogram beras per petani senilai kurang lebih Rp 10.000. Total kontribusi dari 115 petani sekitar Rp 1,15 juta. Dari 3 kali panen, terkumpul dana sekitar Rp 3,45 juta per tahun untuk biaya perawatan PLTS dan pompa irigasi.


Kini petani tinggal menjaga keran-keran dan pipa yang mengairi sawah-ladang mereka, sementara energi dari langit terus menyalakan mesin irigasi. Seperti Dian, ia membuka keran agar airnya dapat dimanfaatkan petani untuk membajak sawah. Traktor pun berderu menggilas tanah.
