Jakarta, CNBC Indonesia - Bos SpaceX sekaligus pemilik platform X, Elon Musk, sesumbar akan merilis versi film sendiri dari epos kuno Yunani, The Odyssey, menggunakan kecerdasan buatan (AI) miliknya. Ancaman ini adalah respons atas film garapan Christopher Nolan yang ia kritik karena dianggap "terlalu mengikuti arus progresif."
Melalui unggahan di akun resminya, Musk menyatakan alat pembuat video AI bernama Grok Imagine akan menyelesaikan film sebelum 2026 berakhir. Ia menegaskan hasilnya akan "akurat secara sejarah dan setia pada seni karya Homer."
Keputusan ini muncul setelah Musk berbulan-bulan mengecam film The Odyssey garapan Christopher Nolan. Ia menuduh sutradara tersebut "mencemari karya Homer" dan "merendahkan diri demi memenuhi aturan yang dianggap 'progresif' supaya bisa menang Oscar."
Penyebab utamanya adalah keputusan casting Nolan yang melibatkan aktris berkulit hitam dan aktor transeksual dalam peran penting-sebuah langkah yang bagi Musk "tidak sesuai fakta sejarah."
Kritik atas The Oddysey balik dikritik karena dinilai "sibuk" mempertanyakan akurasi sejarah sebuah karya fiksi yang penuh unsur fantasi. Selain itu, ahli sejarah menjelaskan bahwa kisah tersebut berasal dari kumpulan dongeng yang diceritakan secara lisan oleh "pengamen", ribuan tahun setelah latar sejarah cerita.
Musk adalah salah satu yang paling gencar mengkritik Nolan. Bahkan menuduh Nolan sebagai "rasis anti-kulit putih."
Ironisnya, film tersebut justru meraih sambutan luar biasa. Pendapatan pembukaan global mencapai US$ 264 juta dan diprediksi menembus angka US$ 1 miliar hingga masa tayang berakhir. Film ini juga mendapat pujian luas dari kritikus maupun penonton.
Dalam unggahannya, Musk melampirkan cuplikan adegan 3 menit yang sudah dibuat pengguna lain menggunakan Grok Imagine, dengan tampilan tokoh yang lebih menyerupai orang Eropa Barat daripada Mediterania. Ia tidak menjelaskan apakah versi itu sudah memenuhi standar "akurat sejarah" yang ia tuntut dari film Nolan.
Tak hanya itu, Musk juga menyambut usulan pengikutnya untuk membiayai sutradara Mel Gibson sebesar US$ 100 juta guna menggarap versi film yang "dikerjakan dengan sangat teliti sesuai sejarah". Musk menjawab singkat: "Saya setuju." Padahal, film terakhir yang disutradarai Gibson mendapat kritik tajam dari penonton maupun pengamat perfilman.
Meski Musk terus mengobarkan perdebatan ini di media sosial, tanggapan publik tampak berpihak pada karya Nolan. Sebelumnya, Musk sendiri pernah memuji karya-karya Nolan sebagai "luar biasa". Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak sutradara maupun studio Universal Pictures terkait janji pembuatan versi AI ini.
Elon Musk kerap sesumbar melontarkan ambisi yang berujung sebagai sebuah kebohongan. Salah satunya adalah soal kemampuan teknologi mobil tanpa sopir Tesla. Pada 2016 lalu, Tesla pertama kali memperkenalkan sistem kemudi otomatis penuh (Full Self-Driving/FSD).
Namun, kebohongan Musk terungkap. Tesla ternyata menggunakan video rekayasa untuk menampilkan mobil otomatis tanpa sopir yang berjalan aman di kondisi menantang. Video itu sudah dihapus dan Tesla mengklaim teknologinya sudah ada, hanya tinggal memvalidasi software-nya.
Tak berhenti sampai di situ, 6 tahun lalu Musk menggembar-gemborkan rencana Tesla untuk mengoperasikan 1 juta robotaxi di jalanan pada 2020. Lagi-lagi, omongan itu hanya bualan.
Ahli AI bernama Yan LeCun juga pernah membongkar prediksi bohong Musk, yaitu klaim bahwa model artificial general intelligence bakal lahir pada 2025.
LeCun juga menyerang Musk dengan tudingan mengakui hasil kerja orang lain. Ia mencontohkan laporan penelitian tentang Neuralink yang dipublikasikan di Journal of Medical Internet Research pada 2019. Di laporan itu, Musk dicantumkan sebagai penulis utama dan menyebut penulis lainnya sebagai "Neuralink."
"Saya yakin ilmuwan yang namanya disembunyikan di balik nama itu sangat senang. Saya hanya berharap mereka tidak meninggal dengan hati getir dan merasa dilupakan," kata LeCun.
(dem/dem)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]