Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan petani untuk segera menyesuaikan kalender tanam, menyusul menguatnya fenomena El Nino yang diperkirakan memperpanjang musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko penurunan produksi hingga gagal panen.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, lembaganya sejak Maret 2026 telah memproyeksikan Indonesia akan menghadapi musim kemarau yang bersamaan dengan El Nino. Seiring perkembangan kondisi global, intensitas El Nino juga terus menunjukkan penguatan.
Menurutnya, wilayah yang paling berisiko terdampak berada di bagian selatan garis khatulistiwa. Karena itu, petani di daerah tersebut diminta mengatur ulang waktu tanam agar masa panen tidak berlangsung saat puncak kemarau.
"El Nino itu mempengaruhi signifikan di bagian selatan garis khatulistiwa. Di sana memang kita harus menyesuaikan untuk memulai periode tanamnya, apakah akan dipercepat supaya pada saat di akhir mendekati panen itu ketika masuk kemarau. Jadi tidak mempengaruhi hasil panennya," kata Faisal dalam konferensi pers di kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Buruh tani padi memanen padi diKawasan persawahan Primeter Selatan, Tangerang, Banten, Kamis (1/3/2018). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 5.207,00 per Kg atau turun 3,84 persen dan di tingkat penggilingan Rp 5.305,00 per Kg di Februari 2018. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki
"Karena yang kita takutkan adalah ketika terjadi gagal panen, atau masyarakat enggan menanam karena menghadapi El Nino ini," sambungnya.
BMKG memetakan wilayah selatan garis khatulistiwa sebagai kawasan yang diperkirakan menerima dampak paling besar dari El Nino. Daerah tersebut mencakup Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Pulau Jawa terutama kawasan pesisir, Sumatra bagian selatan, hingga Papua bagian selatan.
Meski demikian, Faisal menegaskan penanganan tidak bisa disamaratakan karena setiap daerah memiliki karakteristik musim yang berbeda. BMKG telah membagi Indonesia ke dalam 699 zona musim agar rekomendasi yang diberikan kepada petani dapat disesuaikan dengan kondisi iklim di masing-masing wilayah.
Selain penyesuaian jadwal tanam, BMKG juga mendorong penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan kepada petani dengan melibatkan penyuluh pertanian di berbagai daerah.
Lebih lanjut, Faisal menjelaskan El Nino bukanlah musim kemarau, melainkan fenomena iklim global yang memperkuat dampak kemarau sehingga berlangsung lebih lama dan lebih kering dibanding kondisi normal.
BMKG memperkirakan dampak El Nino terhadap Indonesia mulai melemah pada pertengahan Oktober 2026 seiring datangnya musim hujan. Namun secara global, fenomena tersebut diprediksi masih bertahan hingga Mei 2027. BMKG pun terus memantau perkembangannya karena El Nino masih berpotensi meningkat ke fase yang lebih kuat.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]