Duka dan Amarah Usai Kebakaran RS Pakistan Tewaskan 14 Bayi

2026/08/27

Samina Waqar (30) juga menghabiskan malam di rumah sakit untuk menemani saudara perempuannya yang sehari sebelumnya melahirkan melalui operasi caesar.

"Suami saudara perempuan saya ingin menemui istrinya. Ketika dia hendak masuk pada pagi hari, dia mendengar teriakan dan kepanikan. Dia langsung menelepon saya dan memberi tahu ada kebakaran," kata Waqar kepada Al Jazeera.

Waqar kemudian berlari menuju bangsal untuk membantu proses penyelamatan. Saudara perempuannya, meski baru menjalani operasi sehari sebelumnya, berhasil berjalan keluar sendiri. Sementara itu, suaminya menggendong bayi mereka menuju tempat aman.

"Bangsal kami tepat di seberang ruang perawatan bayi tempat kebakaran terjadi. Seluruh lantai dipenuhi asap dan hawa panas. Saya bahkan tidak tahu bagaimana kami bisa membawa mereka keluar, bersama beberapa ibu yang baru melahirkan lainnya. Semuanya terasa samar dalam ingatan saya," ujarnya.

Istri Sardar Atee Rehman (39) juga dirawat di bangsal yang bersebelahan dengan ruang perawatan bayi setelah melahirkan seorang anak perempuan sehari sebelumnya.

"Istri saya menelepon sekitar pukul 06.30 pagi. Dia berteriak mengatakan ada kebakaran di suatu tempat dan asap mulai memenuhi bangsal. Dia meminta saya segera masuk," ungkap Rehman.

Menurut Rehman, petugas keamanan di dalam rumah sakit membantu. Namun, ia mengaku tidak melihat perawat maupun dokter. Sejumlah saksi lain menyampaikan hal serupa.

Beberapa keluarga pasien kemudian mengatakan staf rumah sakit sebenarnya berada di lokasi sepanjang malam, tetapi berlari meninggalkan tempat ketika kebakaran terjadi. Sebagian saksi menyebut tindakan itu sebagai reaksi spontan akibat kepanikan.

Manajemen PIMS memberikan keterangan berbeda.

Direktur Eksekutif PIMS Rana Imran Sikandar mengatakan dua dokter dan empat perawat sedang bertugas di unit perawatan intensif ketika kebakaran terjadi.

Menteri Federal Urusan Parlemen Tariq Fazal Chaudhry, saat berbicara kepada wartawan di rumah sakit, juga menyebut jumlah petugas yang sama.

Abdul Ghaffoor (26) warga Rawalpindi yang sedang menemani ibunya, mengatakan ia melihat keributan di luar bangsal lalu berlari untuk membantu.

"Saya mendengar staf biasanya mengunci pintu dan akses keluar karena ini bangsal bersalin. Mereka ingin memastikan laki-laki tidak diperbolehkan masuk. Selain itu, sebelumnya juga banyak terjadi kasus penculikan bayi. Karena itulah staf mengunci pintu-pintu keluar," katanya.

Pejabat PIMS memberikan penjelasan serupa kepada wartawan.

Menurut mereka, akses menuju ruang perawatan bayi memang dibatasi sebagai bagian dari kebijakan yang telah lama diterapkan untuk mencegah penculikan bayi dari bangsal. Mereka menegaskan pembatasan tersebut bukan kelalaian yang khusus terjadi pada kebakaran Rabu pagi.

PM Shehbaz Sharif memerintahkan penyelidikan atas kebakaran tersebut dan kemudian memberhentikan sementara Sekretaris Kesehatan Federal Aslam Ghaury.

Dua tim penyelidikan terpisah telah dibentuk, masing-masing oleh pemerintah distrik Islamabad dan kantor perdana menteri. Keduanya ditugaskan menyelidiki rangkaian kejadian dan penyebab tragedi tersebut.

Waqar, yang saudara perempuannya selamat, mengaku marah kepada pihak rumah sakit. Ia menuding pengelola rumah sakit lalai dan gagal memberikan perlindungan yang memadai kepada pasien, terutama bayi baru lahir.

"Ini adalah ruang perawatan untuk bayi dalam kondisi kritis. Kalau ada satu tempat yang seharusnya mendapat perhatian paling besar soal keselamatan, ya ruangan ini. Namun, sikap ceroboh yang sudah seperti tindakan kriminal justru berujung pada tragedi ini," imbuhnya.