Jakarta (ANTARA) - Memasuki dua dekade, Program Indofood Riset Nugraha (IRN) kembali menegaskan komitmen PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) dalam mendukung generasi peneliti muda dan pengembangan potensi pangan Indonesia.
Melalui Simposium Pangan Nasional 2026 bertema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa”, IRN mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti dan pelaku industri untuk membahas bagaimana riset dapat menjadi fondasi inovasi pangan yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Diselenggarakan secara rutin setiap dua tahun, Simposium Pangan Nasional merupakan bagian dari upaya berkelanjutan IRN untuk memperkuat ekosistem riset dan kolaborasi pangan Indonesia.
Tahun ini, forum tersebut juga menjadi momentum dimulainya Program IRN 2026–2027, dengan 83 peneliti mahasiswa S1 terpilih dari total 595 proposal penelitian yang diterima.
Pelaksanaan program menjelang Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2026 turut membawa semangat "Innovate today. Nourish tomorrow”, yang menjadi tema sentral Hari Pangan Sedunia tahun ini.
Semangat tersebut menjadi inspirasi ruang diskusi yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kekayaan sumber daya pangan serta kearifan lokal guna mengembangkan solusi pangan bagi masa depan.
Simposium Pangan Nasional: Memperkuat Dialog, dari Riset Menuju Hilirisasi Simposium Pangan Nasional 2026 mengangkat tema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa” hadir sebagai pertukaran gagasan mengenai pengembangan pangan fungsional, dengan menghubungkan perspektif kebijakan, kesehatan, industri, dan regulasi.
Forum ini membahas peluang pengembangan sumber daya lokal serta langkah yang diperlukan agar hasil riset pangan dapat bergerak menuju penerapan dan hilirisasi.
Rangkaian simposium mencakup keynote speech dari Prof. Rachmat Pambudy, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, mengenai kebijakan dan arah pembangunan nasional di bidang pangan, gizi, kesehatan untuk kemandirian bangsa.
Diskusi dipandu salah satu tim pakar IRN, Prof. Dr. Fenny Martha Dwivany menghadirkan Dyan Garneta Paramita Sari, dari Kementerian Perindustrian RI, yang mengupas kebijakan pengembangan industri pangan fungsional yang berdaya saing dan berbasis bahan baku lokal; beserta perwakilan dari Kementerian Kesehatan RI, untuk membahas peran pangan fungsional dalam mendukung perbaikan gizi dan pencegahan penyakit tidak menular; dan perwakilan BPOM RI, yang mengulas persyaratan keamanan, mutu, pelabelan, dan klaim dalam pengembangan pangan fungsional.
Pembahasan turut diperkaya oleh perspektif akademisi dan praktisi, termasuk dr. Widjaja Lukito, Prof. Dr. Ir.Bustanul Arifin,M.S, Adhi S. Lukman, Winarti TK, serta Prof. Purwiyatno Hariyadi.
"Pengembangan pangan fungsional memerlukan keterhubungan antara riset, kebutuhan masyarakat, kesiapan industri, dan ketentuan regulasi. Melalui simposium ini, kami berharap para peneliti memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai proses pengembangan inovasi, termasuk pentingnya bukti ilmiah, keamanan, mutu, dan ketepatan klaim, agar potensi pangan lokal dapat dikembangkan secara bertanggung jawab,” jelas Prof. Purwiyatno Hariyadi, Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN.
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pangan yang beragam, mulai dari hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan hingga rempah-rempah serta pangan fermentasi tradisional seperti tempe.
Kekayaan tersebut diperkuat oleh pengetahuan dan kearifan masyarakat dalam mengolah serta memanfaatkannya.
Prof. Purwiyatno Hariyadi mengungkapkan Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal dan pengetahuan tradisional yang dapat menjadi sumber gagasan inovasi. Riset lberperan penting untuk memahami potensi tersebut, menguji manfaatnya secara ilmiah, serta memastikan keamanan dan mutu dalam pengembangannya.
"Melalui IRN, kami ingin membangun generasi peneliti muda yang kritis, kreatif, dan mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, sehingga hasil riset memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi solusi pangan yang bermanfaat.”
Pendekatan ini sejalan dengan semangat Hari Pangan Sedunia 2026, yang menempatkan inovasi dan pengetahuan tradisional sebagai bagian dari upaya membangun masa depan pangan.
Dalam konteks Indonesia, riset pangan lokal dapat memperluas pilihan pangan yang aman, bergizi, dan beragam, sekaligus membuka peluang penciptaan nilai tambah bagi masyarakat.
Sejak diluncurkan pada 2006 sebagai kelanjutan Program Bogasari Nugraha yang dirintis pada 1998, Program Indofood Riset Nugraha telah menerima lebih dari 19.200 proposal penelitian dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa S1 dari lebih dari 200 universitas dan perguruan tinggi, tersebar dari Aceh hingga Papua.
Dukungan IRN meliputi bantuan dana penelitian dan pendampingan oleh tim pakar lintas disiplin ilmu. Melalui proses seleksi, bimbingan, dan penilaian hasil penelitian, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memperkuat kemampuan riset, mengembangkan pola pikir kritis, serta membangun jejaring dengan akademisi dan praktisi industri.
Stefanus Indrayana, Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, mengatakan dua puluh tahun perjalanan Indofood Riset Nugraha merupakan wujud konsistensi Indofood dalam mendukung generasi peneliti muda Indonesia. Kami ingin memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bereksplorasi, memperkuat kemampuan ilmiah, dan mengembangkan kekayaan pangan lokal menjadi gagasan inovasi yang relevan bagi masyarakat."
"Sebagai perusahaan Total Food Solutions yang lahir dan bertumbuh di Indonesia, kami percaya bahwa investasi pada riset dan sumber daya manusia merupakan bagian penting dalam membangun masa depan pangan Indonesia.”
Selama dua dekade, IRN juga telah membangun jejaring alumni yang kini berkiprah sebagai akademisi, peneliti, profesional, dan entrepreneur.
Jejaring tersebut menjadi modal untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan mendorong lahirnya kolaborasi dalam pengembangan pangan.
Melanjutkan Komitmen melalui IRN 2026–2027
Selain simposium, rangkaian kegiatan mencakup penganugerahan peneliti terbaik Program IRN 2025–2026 serta seremoni penandatanganan kerja sama dan penyerahan simbolis bantuan dana riset, sebagai tanda dimulainya pelaksanaan Program IRN periode 2026–2027.
Sebanyak 83 peneliti terpilih akan melanjutkan penelitian dengan dukungan dana dan pendampingan Tim Pakar IRN selama satu tahun ke depan.
Keberlanjutan program ini menjadi bagian dari komitmen Indofood untuk terus membuka kesempatan bagi mahasiswa dalam menggali potensi pangan Indonesia.
“Melalui IRN dan Simposium Pangan Nasional, kami berharap kolaborasi antara dunia usaha, akademisi, pemerintah, dan peneliti muda dapat semakin kuat. Semangat ‘Innovate today. Nourish tomorrow' mengingatkan kita bahwa riset dan pengembangan kapasitas yang dilakukan hari ini dapat menjadi fondasi bagi inovasi pangan di masa depan. Indofood ingin terus menjadi bagian dari perjalanan tersebut, tumbuh bersama dan menghadirkan kebaikan bagi masyarakat,” tutup Stefanus Indrayana.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.