Elaine Tairio, CNBC Indonesia
09 October 2026 10:28
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (9/10/2026). Pergerakan positif ini terjadi ketika reli greenback mulai kehilangan momentum, seiring penurunan imbal hasil Treasury AS dari level tertingginya dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, sembilan dari 10 mata uang Asia yang dipantau bergerak di zona hijau. Yen Jepang menjadi satu-satunya mata uang yang melemah terhadap dolar AS pada pagi ini.
Dong Vietnam memimpin penguatan dengan apresiasi 0,31% ke posisi VND25.809/US$, disusul baht Thailand yang naik 0,18% ke THB33,59/US$.
Selain itu, Peso Filipina berhasil berbalik menguat sekitar 0,12% ke level PHP62,788/US$. Setelah di penutupan perdagangan sebelumnya, mata uang Filipina itu harus terparkir di zona merah di level PHP 62,866/US$ dan menjadi level terlemah sepanjang masa.
Dolar Taiwan dan dolar Singapura masing-masing mencatat penguatan 0,08% ke posisi TWD31,913/US$ dan SGD1,2797/US$.
Rupiah turut bergerak di zona hijau dengan apresiasi 0,06% ke level Rp17.880/US$. Sementara itu, yuan China dan ringgit Malaysia sama-sama menguat 0,05% ke CNY6,6987/US$ dan MYR4,086/US$.
Won Korea Selatan mencatat penguatan paling tipis sebesar 0,02% ke posisi KRW1.341,63/US$.
Sebaliknya, yen Jepang menjadi satu-satunya mata uang yang melemah setelah terdepresiasi 0,07% ke posisi JPY157,98/US$.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,10% ke level 102,041 pada pukul 09.15 WIB.
Pelemahan dolar terjadi ketika reli greenback mulai kehilangan momentum, seiring turunnya imbal hasil Treasury AS dan meredanya tekanan di pasar obligasi Eropa.
Mengutip Reuters, yield Treasury AS tenor 10 tahun turun 4 basis poin menjadi 5,233% pada perdagangan Kamis, sementara tenor 30 tahun merosot 5,4 basis poin ke 5,607%. Penurunan tersebut terjadi setelah lelang obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun mendapat respons positif dari pasar.
Imbal hasil Treasury AS juga menuju penurunan mingguan terbesar dalam sekitar tiga bulan. Kondisi ini mengurangi salah satu faktor yang sebelumnya menopang penguatan dolar, yakni tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkatkan daya tarik aset berbasis greenback.
Di sisi lain, euro mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat menyentuh level terendah dalam 17 bulan di US$1,1161 pada awal pekan. Mata uang tunggal Eropa kemudian bergerak ke kisaran US$1,1211 seiring mulai stabilnya pasar obligasi Prancis.
Meski demikian, euro masih berada di jalur pelemahan mingguan kelima berturut-turut, dengan penurunan sekitar 0,3% sepanjang pekan ini dan lebih dari 3% dalam lima pekan terakhir.
"Dolar berada dalam posisi unggul yang rapuh, ditopang oleh lemahnya euro dan yen," ujar Vishnu Varathan, Head of Asia-Pacific Macro Strategy Mizuho Securities, dikutip dari Reuters.
Sementara itu, Matt Simpson, Senior Analyst StoneX, menilai tekanan jual terhadap euro mulai kehilangan momentum setelah pelemahan tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Meski dolar masih bertahan di level relatif tinggi, penurunan yield Treasury AS dan mulai stabilnya euro menjadi faktor yang membatasi penguatan greenback menjelang akhir pekan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)