Doctors Without Borders Kecam Israel Tutup Kasus Kematian Staf di Gaza, Sebut Tak Ada Keadilan

2026/08/21

“Ini bukan keadilan,” tegas MSF dalam pernyataannya.

MSF menilai sistem militer yang menyelidiki tindakannya sendiri tidak mampu menangani dugaan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional yang berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.

MSF: Lokasi staf sudah diberitahukan kepada Israel

MSF menyebut identitas, lokasi, serta pergerakan personelnya telah dibagikan kepada pihak militer Israel sebagai bagian dari mekanisme koordinasi kemanusiaan. Kendaraan organisasi itu juga disebut memiliki penanda yang jelas sebagai kendaraan medis.

“Sejak awal kami meyakini seluruh bukti mengarah pada tanggung jawab yang jelas dari tentara Israel atas serangan-serangan mematikan tersebut,” tulis MSF.

Dua serangan yang menjadi sorotan

MSF mengungkap dua insiden utama yang menjadi dasar tuntutannya.

Serangan pertama terjadi pada November 2023, ketika sebuah konvoi MSF diserang hingga menewaskan dua kerabat staf organisasi. Salah satu korban, Alaa Al Shawa, diketahui merupakan relawan yang membantu tim medis MSF di Rumah Sakit Al-Shifa.

Insiden kedua terjadi pada Februari 2024 di sebuah tempat perlindungan MSF di Khan Younis. Serangan itu menewaskan istri dan menantu perempuan seorang staf MSF, sementara enam orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk lima perempuan dan anak-anak.

Sebut tak ada akuntabilitas dalam sistem hukum Israel

Sejak perang Gaza meletus pada Oktober 2023, MSF menyatakan 15 stafnya telah tewas akibat serangan Israel. Organisasi itu menambahkan sekitar 1.700 tenaga kesehatan juga dilaporkan meninggal dalam periode yang sama di Jalur Gaza.

Menurut MSF, penutupan kasus tersebut menunjukkan bahwa tidak ada prospek akuntabilitas melalui sistem hukum Israel bagi korban dari kalangan tenaga medis maupun pekerja kemanusiaan.

MSF menegaskan bahwa tinjauan internal militer tidak dapat menggantikan penyelidikan yang independen, imparsial, dan kredibel. Organisasi itu mendesak agar seluruh kasus yang melibatkan personelnya diperiksa oleh badan investigasi independen.

“Tidak ada tujuan militer yang dapat membenarkan pengorbanan massal terhadap warga sipil,” tegas MSF.

Korban tewas di Gaza terus bertambah

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 10 warga Palestina tewas dan 25 lainnya terluka dalam 24 jam terakhir.

Data otoritas kesehatan setempat menyebut total korban tewas sejak Oktober 2023 telah mencapai 73.417 orang, dengan 174.360 korban luka.

Kementerian juga menyatakan dugaan pelanggaran terhadap gencatan senjata telah menyebabkan 1.283 orang tewas dan 4.248 lainnya terluka sejak kesepakatan tersebut mulai berlaku.

Sumber: Anadolu