Mataram (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menggencarkan program pengolahan sampah mandiri dari sumbernya untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kepala DLH Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Jumat, mengatakan salah satu solusi alternatif yang digencarkan untuk penanganan sampah mandiri adalah penyediaan tempah dedoro atau tempat sampah untuk mengolah sampah organik.
"Hingga saat ini jumlah tempah dedoro yang sudah terbangun sekitar 1.246 unit, tersebar di 50 kelurahan se-Kota Mataram," katanya.
Pengoptimalan pengolahan sampah dari rumah tangga itu dilakukan seiring dengan adanya pengurangan kuota ritase pembuangan sampah dari Kota Mataram menuju TPA Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, yang kini kembali dibatasi menjadi satu ritase dari empat ritase dan sudah berjalan hampir dua minggu.
Kebijakan pembatasan itu sesuai instruksi resmi dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB yang diterima beberapa pekan lalu, karena kondisi landfill II di TPA Kebon Kongok saat ini sudah penuh, sementara pembangunan landfill III belum bisa dieksekusi oleh pihak provinsi.
Untuk penanganan sementara, katanya, dengan volume sampah Kota Mataram yang saat ini mencapai 325 ton per hari, pengurangan kuota menjadi satu ritase atau sekitar 64 hingga 70 ton per hari menyisakan sebagian besar volume sampah yang belum terangkut atau sekitar 255 ton per hari.
Baca juga: Pembuangan sampah Mataram ke TPA Kebon Kongok kembali dibatasi
Karena itu sebagai langkah penanganan darurat, DLH Kota Mataram mengalihkan sisa sampah ke area lama di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Bintaro.
"Lokasi di TPS Bintaro di bagian dalam sudah kami pagari keliling agar secara visual tidak mengganggu masyarakat," katanya.
Dalam kondisi saat ini, katanya, partisipasi masyarakat sangat penting untuk mendukung program pemilihan dan pengolahan sampah dari rumah agar volume sampah yang dibuang ke TPA dan TPS bisa berkurang.
Sementara sampah plastik yang masih bernilai ekonomis, seperti botol bekas air mineral dan sejenisnya, bisa dikumpulkan untuk dijual ke pengepul.
"Dengan demikian sampah yang akan dibuang ke TPA atau TPS hanya residu yang sudah tidak bisa dimanfaatkan," katanya.
Selain penyediaan tempah dedoro, penggunaan insinerator juga menjadi bagian dari upaya pengelolaan. Namun kapasitas insinerator saat ini tergolong terbatas, yaitu maksimal 10 ton per unit per hari.
"Jika dua insinerator dioperasikan secara maksimal, sampah yang dapat dikelola baru mencapai sekitar 20 ton setiap harinya," kata NIzar.
Kendati demikian DLH memastikan proses pengangkutan sampah dari rumah warga hingga operasional TPS mobile tetap berjalan normal setiap hari tanpa adanya kendala pengangkutan.
"Kami terus menjaga agar sejumlah TPS, seperti TPS Sandubaya dan TPS Lawata, tetap terkondisikan kosong dan tidak dijadikan tempat penumpukan sampah," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026