DJPb nilai ekonomi Papua menunjukkan tren pemulihan pada 2026

2026/07/12

Jayapura (ANTARA) - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Papua menilai perekonomian di wilayah Tanah Papua menunjukkan tren pemulihan pada 2026 meski terjadi dinamika di setiap provinsi.

Kepala Kanwil DJPb Provinsi Papua, Izharul Haq, di Jayapura minggu, mengatakan pemulihan ekonomi tercermin dari membaik pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah, inflasi yang relatif terkendali, peningkatan penyaluran belanja pemerintah, serta penurunan tingkat kemiskinan di sebagian besar provinsi di Tanah Papua.

"Secara umum, indikator ekonomi regional menunjukkan arah yang positif meskipun tantangan di beberapa wilayah masih perlu mendapat perhatian," katanya.

Menurut Izharul, di mana Provinsi Papua Selatan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 3,93 persen secara tahunan (year on year), sedangkan Papua Tengah berhasil memangkas kontraksi ekonomi dari minus 35,59 persen menjadi minus 8,38 persen sehingga menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya.

"Dari sisi stabilitas harga, inflasi di Provinsi Papua turun menjadi 2,79 persen dari sebelumnya 3,38 persen, sementara Papua Selatan juga melandai menjadi 2,17 persen dari 3,34 persen," ujarnya.

Dia menjelaskan hanya saja inflasi di Papua Pegunungan masih menjadi yang tertinggi, yakni 4,84 persen sehingga kondisi tersebut dipengaruhi tingginya biaya distribusi barang akibat ketergantungan pada transportasi udara yang terdampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Selain tren pemulihan ekonomi juga terlihat dari indikator kesejahteraan juga menunjukkan perkembangan positif. Tingkat kemiskinan mengalami penurunan di hampir seluruh wilayah Papua, kecuali Papua Tengah yang masih mencatat kenaikan angka kemiskinan," katanya.

Baca juga: BI intensifkan GPM dan KAD untuk jaga stabilitas ekonomi di Papua

Baca juga: Papua Tengah dorong ekonomi masyarakat lewat pengelolaan hutan

Dia mengatakan, sementara itu, tingkat ketimpangan pendapatan juga terus membaik di beberapa provinsi. Papua Pegunungan bahkan mencatat rasio gini sebesar 0,347 atau lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 0,363 yang menunjukkan distribusi pendapatan semakin merata.

"Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) Papua mencapai 100,89 atau berada di atas angka 100 yang mencerminkan daya beli dan tingkat kesejahteraan petani relatif baik. Namun, Papua Pegunungan masih menghadapi tantangan karena NTP berada di bawah 100 sehingga pendapatan petani belum sepenuhnya mampu menutupi biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga," ujarnya.

Dia menjelaskan peningkatan belanja pemerintah pusat maupun transfer ke daerah diharapkan terus menjadi penggerak aktivitas ekonomi sehingga mampu mempercepat pemulihan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah Papua.

"Belanja pemerintah diharapkan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah sehingga pemulihan ekonomi dapat berlangsung lebih kuat dan merata," katanya.

Baca juga: Wamendagri buka pameran UMKM di Papua untuk perkuat ekonomi kreatif

Baca juga: YPMAK bangun rumah sagu dukung ketahanan pangan dan ekonomi warga

Baca juga: Gubernur percepat pembukaan akses wilayah terpencil di Papua

Pewarta: Qadri Pratiwi
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.