Ditargetkan Beroperasi Januari 2027, Bursa Mineral Indonesia Dibidik Jadi Price Maker

2026/10/11

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menargetkan mengubah posisinya di pasar mineral global, dari sekadar price taker atau penerima harga menjadi price maker (pembentuk harga) yang turut menentukan harga komoditas dunia. Langkah ini diwujudkan melalui pendirian Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) ditargetkan beroperasi pada Januari 2027. 

Kepala Eksekutif Pengawas BMKS Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sarjito, mengatakan proses tersebut tidak bisa dilakukan secara instan. Bursa mineral Indonesia harus terlebih dahulu membangun likuiditas dan kedalaman pasar sebelum mampu memiliki daya tawar dalam pembentukan harga global.

“Logikanya, yang terbaik adalah ketika harga mineral di kita itu sudah terbentuk. Itulah yang menjadikan harga referensi. Dan pertanyaannya, apakah cuma mau jadi reference price atau price maker, Idealnya harus price maker. Tapi di awal-awal kita harus realistis,” ujar Sardjito, dalam Diskusi Dewan Komisioner OJK dengan Redaktur Media Massa di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, perjalanan Indonesia menuju price maker dimulai dari posisi sebagai price taker, kemudian membangun harga referensi domestik, sebelum akhirnya memiliki pengaruh lebih besar terhadap pembentukan harga mineral global.

Sardjito menekankan, kepemilikan sumber daya mineral yang melimpah tidak otomatis membuat Indonesia mampu menentukan harga. Kunci utamanya justru terletak pada kemampuan menciptakan pasar yang dipercaya pelaku industri internasional. “Isunya bukan hanya karena kita punya mineral dan komoditas yang banyak. Tetapi adalah kita menciptakan pasar,” katanya.

Meski memiliki sumber daya mineral yang besar, Indonesia tetap harus membangun kepercayaan agar pelaku pasar global bersedia menggunakan bursa domestik sebagai tempat bertransaksi dan merujuk harga.

Sardjito menekankan pentingnya ekosistem pendukung, termasuk kepastian hukum, sebagai fondasi bagi pengembangan bursa. Tanpa dukungan tersebut, keberadaan komoditas yang melimpah belum tentu cukup untuk menarik partisipasi internasional.

Dalam tahap awal, pengembangan bursa akan difokuskan pada komoditas tertentu, terutama timah dan feronikel. Sardjito menyebut pendekatan bertahap diperlukan agar penyelenggara dapat mengidentifikasi kelemahan mekanisme perdagangan yang sudah ada, sekaligus membangun pasar yang lebih likuid.

Ia menyinggung perdagangan timah yang selama ini telah dilakukan melalui Jakarta Futures Exchange (JFX). Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk menutup berbagai kelemahan dalam mekanisme perdagangan sebelum pengembangan bursa mineral dilanjutkan. “Bisa saja ketika suasananya kondusif dan dalam perjalanannya ada yang lain. Tapi menurut saya tetap gradual,” ujarnya.