Dinkes Maluku gencarkan skrining kusta bagi siswa

2026/08/14

Ambon (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Maluku menggencarkan skrining atau deteksi dini penyakit kusta pada siswa sekolah dasar sebagai upaya memutus rantai penularan sejak usia dini dan mempercepat pencapaian eliminasi kusta di daerah itu.

Kepala Dinas Kesehatan Maluku Elna Anakotta di Ambon, Jumat, mengatakan skrining dilakukan secara aktif dengan mendatangi sekolah-sekolah, terutama di wilayah yang menjadi perhatian dalam pengendalian kusta, termasuk Kabupaten Maluku Tengah.

"Dinkes Maluku mengambil inisiatif untuk hadir langsung, karena kami mau berusaha supaya eliminasi kusta di tengah masyarakat dan pada anak bisa dimaksimalkan, bahkan diputuskan rantainya," kata Elna.

Baca juga: Pemprov Maluku jadikan Kota Ambon percontohan eliminasi kusta

Skrining dilakukan petugas puskesmas di sejumlah sekolah dasar, di antaranya SDN 149, SDN 197, dan SDN 244 Desa Hatu, Kabupaten Maluku Tengah.

Menurut Elna, langkah tersebut penting, karena kasus kusta pada anak menunjukkan masih adanya penularan penyakit tersebut di tengah masyarakat.

Sejak awal 2026 hingga Juli, tercatat 179 kasus kusta pada orang dewasa dan 22 kasus pada anak di Maluku. Kasus pada anak mencapai sekitar 12 persen dari keseluruhan kasus yang ditemukan.

"Kalau tidak ditangani, yang berbahaya adalah efek sampingnya. Penularan kusta memang rendah, tetapi dampaknya bisa menjadi persoalan jika terlambat ditemukan dan diobati," ujarnya.

Ia menjelaskan kusta merupakan penyakit infeksi menahun yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae dan terutama menyerang kulit serta saraf tepi. Penyakit ini dapat ditandai antara lain dengan munculnya bercak pada kulit yang mengalami perubahan rasa atau mati rasa.

Baca juga: Ada 430 Penderita Kusta di Maluku

Kusta dapat menular melalui kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum mendapatkan pengobatan. Namun, penyakit tersebut tidak mudah menular melalui kontak biasa dan dapat disembuhkan secara tuntas dengan pengobatan yang tepat.

Karena itu, Elna menekankan pentingnya menemukan kasus sedini mungkin, sehingga penderita dapat segera memperoleh pengobatan dan risiko kecacatan akibat kerusakan saraf dapat dicegah.

"Kepala sekolah adalah orang yang tahu kondisi anak-anak. Oleh karena itu, kegiatan ini juga harus dikampanyekan guna mewujudkan budaya sekolah yang aman dan nyaman," katanya.

Ia menambahkan lingkungan sekolah yang aman tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga pemahaman warga sekolah terhadap penyakit kusta.

Edukasi diperlukan agar siswa yang mengalami gejala kusta tidak mengalami stigma, kehilangan kepercayaan diri, maupun menjadi korban perundungan.

"Penanganan dan edukasi mengenai kusta pada anak harus berjalan bersama, sehingga dampak kusta tidak menyebabkan anak tidak percaya diri atau bahkan dirundung," ujar Elna.

Baca juga: Dinkes diminta segera tangani penderita kusta di Seram Bagian Timur

Baca juga: 56 kasus kusta terdata selama 2018 di Ambon-Maluku

Dinkes Maluku juga terus mengedukasi masyarakat bahwa kusta bukan kutukan maupun penyakit akibat hal-hal mistis, melainkan penyakit infeksi yang dapat diobati dan disembuhkan.

Selain Maluku Tengah, Kota Ambon juga diarahkan sebagai daerah percontohan untuk mempercepat upaya eliminasi kusta melalui penguatan penemuan kasus, pengobatan, pemantauan kontak erat, serta edukasi kepada masyarakat.

Upaya skrining di sekolah diharapkan dapat mempercepat penemuan kasus baru pada anak sekaligus mendorong keluarga dan masyarakat segera memeriksakan diri apabila menemukan perubahan pada kulit atau gangguan rasa yang mengarah pada gejala kusta.

Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.