Dinkes Kotimantisipasi peningkatan penyakit pada musim kemarau - ANTARA News Kalimantan Barat

2026/07/22

Sampit (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengantisipasi potensi peningkatan sejumlah penyakit pada musim kemarau.

"Untuk mengantisipasi peningkatan kasus selama musim kemarau, Dinas Kesehatan telah menyiapkan obat-obatan, tenaga kesehatan, dan logistik pendukung di seluruh fasilitas kesehatan," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho di Sampit, Rabu.

Hal itu juga telah disampaikan kepada seluruh puskesmas, rumah sakit, dan Laboratorium Kesehatan Daerah agar memperkuat langkah antisipasi sesuai tugas masing-masing.

“Selama musim kemarau ini ada dua penyakit yang paling kami waspadai, yakni diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Khususnya diare lebih menjadi prioritas karena sifatnya cepat dan bisa fatal jika terlambat ditangani,” ujarnya.

Ia mengatakan meningkatnya kerawanan penyakit ISPA selama musim kemarau dipengaruhi udara yang kering, berdebu dan berpolusi memicu iritasi serta melemahkan membran mukosa saluran pernapasan.

Sementara kasus diare meningkat akibat menyusutnya sumber air bersih yang meningkatkan konsentrasi bakteri, memburuknya higiene akibat keterbatasan air, serta makin cepatnya pembusukan makanan dan perkembangan lalat di suhu udara yang panas.

“Berdasarkan data Dinkes Kotim, sepanjang minggu pertama hingga minggu ke-28 tahun 2026 tercatat 14.987 kasus ISPA. Jumlah ini masih lebih rendah jika dibandingkan data pada 2025 pada periode yang sama, yakni 17.289 kasus,” ungkapnya.

Sebaliknya, untuk kasus diare menunjukkan peningkatan meski belum signifikan. Berdasarkan data sepanjang minggu pertama hingga minggu ke-28 tahun 2026 tercatat 3.852 kasus diare. Pada periode yang sama tahun lalu terdapat 3.687 kasus diare.

Khusus kasus diare, tren peningkatan jumlah penderita bisa dilihat dalam beberapa pekan terakhir, yakni dari 112 kasus pada minggu ke-26, naik menjadi 136 kasus pada minggu ke-27 dan kembali meningkat menjadi 155 kasus pada minggu ke-28.

"Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena penderita dapat mengalami dehidrasi dalam waktu singkat apabila tidak segera memperoleh penanganan medis," katanya.

Dinkes Kotim juga memetakan sejumlah wilayah yang cukup rawan terhadap penyakit diare, yaitu Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Baamang, dan Cempaga.

Ia menyebut seluruh kelompok usia sebenarnya berisiko mengalami diare, namun bayi dan balita menjadi kelompok yang paling rentan. Pada usia tersebut, anak umumnya tidak mau makan atau minum saat sakit sehingga lebih mudah mengalami kekurangan cairan.

Nugroho menilai sebagian masyarakat sudah memiliki kesadaran untuk segera membawa anggota keluarga yang mengalami diare ke fasilitas kesehatan.

Pewarta: Muhammad Arif Hidayat/Devita Maulina
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.