Rabu, 29 Juli 2026 - 00:31 WIB
VIVA –Permasalahan stunting masih menjadi tantangan kesehatan yang dihadapi anak Indonesia, dimana 19,8 persen atau sekitar 1 dari 5 anak di Indonesia masih mengalami stunting. Hal tersebut terjadi karena masih banyak juga daerah-daerah yang membutuhkan dukungan dan perhatian khusus berbagai pihak, karena prevalensi angka stuntingnya lebih tinggi bandingkan daerah lain.
Baca Juga
Salah satunya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih memiliki angka prevalensi stunting tertinggi kelima di Indonesia, yaitu sebesar 37 persen (214.143).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kepala Dinas Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi NTT, drg. Iien Adriany, M.Kes menekankan bahwa upaya mengatasi stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor dan menjadikan penurunan stunting sebagai prioritas utama pembangunan pemerintah daerah NTT.
Baca Juga
"Di Indonesia, salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) saat ini adalah stunting. Sebagai salah satu provinsi dengan tantangan geografis dan sosio-ekonomi yang unik, NTT kerap mencatatkan angka prevalensi stunting yang cukup tinggi di tingkat nasional. Kondisi ini bukan sekadar masalah sektor kesehatan, melainkan sebuah ancaman eksistensial terhadap masa depan pembangunan NTT," kata dia dalam keterangannya Rabu 29 Juli 2026.
Lebih lanjut Iien mengatakan salah satu akar masalah stunting di NTT adalah rendahnya pemahaman orang tua mengenai pentingnya 1000 HPK serta terbatasnya akses terhadap produk nutrisi khusus untuk anak-anak yang menunjukkan gejala gagal tumbuh (pre-stunting). Di sinilah pentingnya intervensi gizi spesifik menggunakan Pangan Olahan untuk Kondisi Medis Khusus (PKMK) dan Pangan Diet Khusus (PDK).
Baca Juga
"Kami melihat, PKMK dan PDK bukanlah sekadar susu formula biasa, namun merupakan pangan yang diformulasikan secara khusus di bawah pengawasan medis untuk untuk bantu mencegah dan mengatasi malnutrisi energi protein dan kalori pada anak yang mengalami risiko tinggi stunting," kata dia lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara itu, dokter spesialis anak, dr. Diana Nubatonis, Sp.A menekankan bahwa edukasi secara langsung kepada orang tua menjadi langkah strategis dalam mempercepat pencegahan stunting di tingkat keluarga.
"Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang, yang tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas anak di masa depan. Maka dari itu, pencegahan dan deteksi dini memegang peranan penting dalam penanganan stunting," kata dia.
Halaman Selanjutnya
Diana menghimbau orang tua untuk secara rutin memantau tinggi dan berat badan anak, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan guna memastikan tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya. Deteksi sejak dini menjadi kunci penting agar permasalahan gizi dapat segera ditangani sebelum terlambat.