China Adaptasi Cerita Buku Pelajaran Mandarin Jadi Drama Pendek
CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 17:01 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Kisah-kisah legendaris dari buku pelajaran bahasa Mandarin sekolah dasar dan menengah digarap menjadi serial drama pendek berformat video oleh sejumlah kreator di China.
Inisiatif yang dipelopori tim kreator akun Haojiahuo ini sukses menggaet perhatian luas masyarakat hingga menembus lebih dari 130 juta penayangan, seperti diberitakan Global Times pada Selasa (22/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa drama seperti Kong Yiji, A Letter to My Wife, Monument, hingga serial kolosal 1937 Nanjing dinilai menghidupkan kembali potongan sejarah serta karya sastra yang selama ini hanya dibaca siswa di ruang kelas.
Salah satu proyek terbesarnya, 1937 Nanjing, bahkan menghabiskan masa persiapan hampir satu tahun dengan revisi naskah lebih dari 30 kali dan menelan biaya produksi mencapai 1 juta yuan atau Rp2,6 miliar (1 RMB=Rp2.661,65).
Tim sampai harus menggali dan merancang set darurat di ruang bawah tanah demi mereka ulang atmosfer peperangan secara realistis saat menggarap karya tersebut.
Pencapaian besar ini berbanding terbalik dengan awal perjalanan mereka pada 2024.
[Gambas:Video CNN]
Perwakilan tim Haojiahuo, Zhang, menceritakan saat memproduksi adaptasi Kong Yiji, timnya yang saat itu hanya beranggotakan empat orang harus meminjam satu pencahayaan dan mengandalkan warga desa lokal sebagai pemeran figuran.
Video perdana itu menuai gelombang kritik terkait akting dan sinematografi. Mengingat anggaran awal sebesar 20 ribu yuan sudah ludes, tim tersebut sempat berada di ambang keputusan untuk membubarkan diri.
Namun, titik balik terjadi ketika seorang guru bahasa Mandarin mengabarkan salah satu muridnya yang dikenal malas belajar mendadak menangis usai menyaksikan adaptasi kisah Monument yang mengangkat perjuangan Barisan Merah dalam peristiwa Long March.
"Saat itu lah saya menyadari bahwa kami tidak sekadar membuat video dari cerita buku pelajaran. Kami sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih bermakna," kata Zhang.
Sejak saat itu, tim Haojiahuo mulai mendalami teknik sinematografi, seni peran, serta riset sumber sejarah secara mendalam.
Dalam mengadaptasi karya A Letter to My Wife yang menceritakan surat perpisahan tokoh revolusioner Lin Juemin kepada istrinya pada 1911, mereka tidak hanya menyajikannya sebagai surat cinta.
Mereka turut menambahkan latar belakang gejolak Politik Pemberontakan Guangzhou hingga adegan interogasi yang tak tertulis di buku teks. Langkah ini sengaja diambil untuk memberikan pemahaman utuh kepada generasi muda.
Meski begitu, mempertahankan kualitas produksi tinggi bukan hal mudah bagi pembuat konten video pendek. Dengan biaya produksi rata-rata 100 ribu yuan per episode, tekanan finansial sempat memaksa tim menyetop saluran mereka selama dua bulan pada akhir 2025.
Mereka bahkan sempat tergoda beralih membuat drama modern yang lebih murah dan cepat menghasilkan uang.
Dukungan guru
Namun, niat tersebut batal setelah gelombang pesan dari anak-anak, guru, dan orang tua terus mengalir menanyakan kapan mereka kembali berkarya.
Setelah kembali aktif di awal tahun ini, serial 1937 Nanjing langsung disukai lebih dari satu juta pengguna, bahkan diadopsi oleh sejumlah guru sebagai bahan ajar di kelas.
Pakar kebudayaan asal Beijing, Wang Deyan, menilai daya tarik utama dari adaptasi drama pendek ini terletak pada kekuatan narasi aslinya yang memang sudah memiliki karakter dan emosi yang kuat di dalam buku teks.
"Membawa cerita-cerita ini ke layar kaca memberikan pintu masuk lain bagi audiens muda, membuat tokoh dan latar yang dulunya hanya dibayangkan lewat bacaan menjadi lebih konkret dan mudah diakses," tutur Wang.
Ia mengingatkan bahwa inovasi media baru hendaknya tidak mengorbankan karakter dasar, konteks sejarah, maupun nilai inti cerita hanya demi mengejar jumlah penayangan.
Di tengah maraknya penggunaan teknologi AI, tim Haojiahuo memilih bertahan dengan pemeran manusia dan lokasi syuting nyata demi menjaga keutuhan emosi.
Saat ini, dengan anggota yang telah berkembang menjadi sembilan orang, tim tengah bersiap mengadaptasi kisah-kisah bersejarah lainnya, seperti Bethune hingga The Lily.
"Bagi kami, menyampaikan cerita sejarah berarti tentang kontak mata, hembusan napas, dan detak jantung yang saling terhubung," tutur Zhang.
"Audiens tidak harus mengingat nama tim kami, selama mereka mengingat bagian dari sejarah itu, itu sudah lebih dari cukup."
(chri)