Jakarta (ANTARA) - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda membuat abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Banten, dan Lampung. Kondisi tersebut turut mengganggu aktivitas penerbangan karena abu vulkanik dapat membahayakan keselamatan pesawat, dan juga mengganggu aktivitas masyarakat daerah sekitar akibat sebaran abu yang membahayakan kesehatan di wilayah terdampak.
Untuk membantu mengurangi sebaran abu di atmosfer, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Kepala BNPB Suharyanto mengatakan OMC akan dilakukan ketika kondisi cuaca dan keselamatan penerbangan memungkinkan. Pesawat untuk pelaksanaan operasi tersebut juga telah disiapkan di Pondok Cabe.
Dalam pelaksanaannya, OMC ditujukan untuk membantu menurunkan material abu vulkanik dari atmosfer melalui pembentukan atau penyemaian hujan. Namun, bagaimana sebenarnya cara modifikasi cuaca bekerja? Apakah manusia benar-benar bisa membuat hujan turun sesuai keinginan?
Baca juga: BNPB: Helikopter terbang 15 jam semai garam hujan buatan di Jambi
Apa itu modifikasi cuaca?
Modifikasi cuaca adalah upaya untuk memengaruhi proses yang terjadi di atmosfer dengan memanfaatkan kondisi awan yang sudah ada. Di Indonesia, kegiatan ini dikenal dengan istilah Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.
Sederhananya, OMC bukan berarti manusia bisa menciptakan hujan dari langit yang benar-benar cerah. Teknik ini lebih banyak dilakukan dengan memanfaatkan awan yang memiliki potensi untuk menghasilkan hujan.
Bahan tertentu disebarkan ke dalam awan untuk membantu proses pembentukan atau pertumbuhan butir air sehingga peluang terjadinya hujan dapat meningkat.
Karena itu, keberadaan awan dan kondisi atmosfer menjadi faktor penting. Jika kondisi cuaca tidak mendukung, modifikasi cuaca juga tidak serta-merta dapat menghasilkan hujan.
Bagaimana cara membuat hujan turun?
Salah satu metode yang umum digunakan dalam OMC adalah penyemaian awan atau cloud seeding.
Dalam proses tersebut, pesawat membawa bahan semai tertentu menuju wilayah yang memiliki awan potensial. Bahan tersebut kemudian disebarkan ke dalam awan untuk membantu proses kondensasi dan pembentukan butir air.
Butir air yang semakin besar kemudian dapat jatuh ke permukaan sebagai hujan ketika kondisi atmosfer mendukung.
Jadi, bukan pesawat yang secara langsung "membuat" hujan. Pesawat berperan sebagai sarana untuk mengantarkan bahan semai ke lokasi awan yang sudah memenuhi kriteria.
Baca juga: BNPB lakukan modifikasi cuaca di Kalsel atasi karhutla
Apakah modifikasi cuaca bisa dilakukan kapan saja?
Jawabannya tidak bisa.
OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Tim pelaksana perlu melihat berbagai informasi meteorologi, termasuk keberadaan awan, arah angin, kelembapan, dan kondisi atmosfer lainnya.
BMKG juga menegaskan bahwa OMC merupakan teknologi mitigasi yang pelaksanaannya perlu menyesuaikan kondisi cuaca. Dalam operasi sebelumnya, misalnya, OMC tidak dapat dilakukan ketika awan konvektif yang dibutuhkan belum terbentuk.
Karena itu, ada kalanya pemerintah sudah menyiapkan pesawat dan personel, tetapi operasi belum dapat dilakukan karena kondisi atmosfer tidak mendukung.
Dalam kasus erupsi Gunung Anak Krakatau, OMC disiapkan untuk membantu meluruhkan abu vulkanik yang masih berada di atmosfer.
Hujan yang terbentuk di wilayah yang ditargetkan diharapkan dapat membantu membawa partikel abu turun ke permukaan sehingga konsentrasi material vulkanik di udara dapat berkurang.
Langkah ini menjadi salah satu bagian dari upaya mitigasi setelah erupsi, terutama karena sebaran abu telah berdampak terhadap sejumlah wilayah dan aktivitas penerbangan. BNPB menyebut OMC akan dilakukan dengan tetap memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan penerbangan.
Selain untuk abu vulkanik, OMC digunakan untuk apa?
Modifikasi cuaca sebenarnya sudah digunakan dalam berbagai situasi di Indonesia. Salah satunya adalah membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ketika terdapat awan yang potensial menghasilkan hujan, OMC dapat dilakukan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan. Hujan tersebut diharapkan dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi kondisi kering yang mendukung penyebaran api.
BMKG pada September 2026 juga melaporkan pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat untuk mengoptimalkan potensi hujan sebagai bagian dari upaya penanganan karhutla.
Selain itu, OMC dapat dimanfaatkan dalam penanganan bencana hidrometeorologi tertentu, seperti mengurangi potensi hujan di wilayah tertentu ketika kondisi atmosfer memungkinkan dan tujuan operasi memang mendukung hal tersebut.
Baca juga: BNPB siapkan OMC kurangi dampak abu vulkanik Anak Krakatau
Apakah OMC bisa menghentikan hujan?
Tidak selalu.
Modifikasi cuaca bukan teknologi yang dapat mengendalikan cuaca secara penuh. Hasilnya sangat bergantung pada kondisi atmosfer pada saat operasi berlangsung.
Artinya, ketika tidak tersedia awan yang sesuai atau kondisi atmosfer tidak mendukung, penyemaian tidak otomatis menghasilkan hujan.
BMKG juga menegaskan bahwa OMC merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana dan bukan cara untuk mengendalikan cuaca secara bebas.
Karena itu, keberhasilan operasi biasanya dilihat berdasarkan kondisi dan tujuan yang ingin dicapai, bukan sekadar apakah hujan turun atau tidak.
Jadi, apakah manusia bisa mengendalikan cuaca?
Belum sampai pada tahap tersebut.
Teknologi modifikasi cuaca pada dasarnya bekerja dengan memanfaatkan proses alami yang sudah berlangsung di atmosfer. Manusia dapat memberikan intervensi tertentu untuk membantu proses tersebut, tetapi tidak bisa menentukan cuaca sesuka hati.
Dalam kasus erupsi Gunung Anak Krakatau, misalnya, pemerintah menyiapkan OMC sebagai salah satu langkah untuk membantu menurunkan abu vulkanik dari atmosfer. Namun, pelaksanaannya tetap menunggu kondisi yang aman dan sesuai.
Dengan kata lain, modifikasi cuaca bukan "mesin pembuat hujan", melainkan teknologi yang mencoba mengoptimalkan kondisi atmosfer yang sudah tersedia.
Perkembangan teknologi ini menunjukkan bahwa informasi cuaca, pengamatan atmosfer, dan pemodelan meteorologi semakin penting dalam penanganan bencana. Di tengah ancaman seperti erupsi gunung api maupun karhutla, OMC menjadi salah satu alat bantu yang dapat digunakan pemerintah untuk mengurangi dampak bencana, dengan tetap bergantung pada kondisi alam yang ada.
Baca juga: Pemprov Jateng: Modifikasi cuaca percepat pemadaman TPA Putri Cempo
Baca juga: BMKG target kurangi debu vulkanik Anak Krakatau dalam 1-2 hari
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.