Bupati: Bantul berpotensi kembali jadi lumbung gula nasional

2026/08/27

Bupati: Bantul berpotensi kembali jadi lumbung gula nasional

Kamis, 27 Agustus 2026 21:41 WIB

Image Print

Petani menggendong seikat tebu yang ditanam di salah satu lahan di Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (27/8/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso

Yogyakarta (ANTARA) - Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan wilayah Kabupaten Bantul berpotensi kembali menjadi lumbung gula nasional karena memiliki jejak sejarah panjang dalam industri dan produksi gula.

"Bantul ini memiliki jejak sejarah sebagai lumbung gula nasional," kata Halim di Bantul, Kamis.

Menurut dia terdapat sekitar delapan pabrik gula yang pernah beroperasi dan berjaya di Kabupaten Bantul, di antaranya Eks Pabrik Gula Bantul (Suikerfabriek Bantoel) yang didirikan pada 1861, Eks Pabrik Gula Gondanglipuro atau Ganjuran yang didirikan pada 1862, Pabrik Gula Padokan (De Volharding) yang didirikan pada 1864, serta Eks Pabrik Gula Barongan atau Mindi yang didirikan sebelum 1867.

"Sekarang pabrik gula tinggal satu, yaitu Madukismo di Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul yang masih beroperasi," ujarnya.

Berdasarkan jejak sejarah tersebut, Halim optimistis Bantul dapat kembali menjadi lumbung gula nasional dan mendukung keberhasilan program prioritas pemerintah, yakni swasembada gula.

"Sesungguhnya ini hanyalah me-recovery dari apa yang pernah kita miliki, yang pernah Yogyakarta dan Bantul memilikinya, yaitu lumbung gula nasional," katanya.

Halim yang menghadiri kegiatan penanaman tebu di Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kamis (27/8), menyebut budidaya tebu telah menjadi bagian dari tradisi dan sejarah masyarakat Bantul.

"Penanaman tebu hari ini sesungguhnya bukan hal yang baru dalam tradisi tanam tebu di Kabupaten Bantul," ujarnya.

Untuk mewujudkan Bantul sebagai lumbung gula nasional, Halim menyebut di kawasan Pantai Selatan, khususnya di sebelah selatan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), telah disiapkan lebih dari 2.000 hektare lahan yang seluruhnya merupakan Sultan Ground.

"Ini peluang yang bisa kita manfaatkan, di antaranya untuk penanaman tebu," katanya.

Direktur PT Madubaru Budi Hidayat mengatakan cita-cita Bupati Bantul untuk menjadikan daerahnya sebagai lumbung gula nasional sejalan dengan upaya memenuhi kebutuhan gula nasional.

"Indonesia adalah pengimpor terbesar dunia untuk raw sugar, untuk gula konsumsi saja sampai dengan saat ini belum bisa terpenuhi," ujarnya.

Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Kementerian Pertanian mencanangkan program perluasan areal tanam tebu tanpa mengganggu sektor ketahanan pangan lainnya.

"Kata Pak Bupati Bantul ada potensi 2.000 hektare yang ada di sini bisa kita manfaatkan untuk nanam tebu, yang tidak menggeser tanaman padi," katanya.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan program untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tebu melalui bongkar ratoon atau peremajaan tanaman tebu dengan cara pengolahan lahan kembali.

"Program Bongkar Ratoon dalam rangka perbaikan mutu tebu dengan dukungan benih tebu yang baik dan berkualitas," ujarnya.

Ia menjelaskan PT Madubaru, perusahaan yang mengelola Pabrik Gula Madukismo, saat ini hanya dapat menyerap sekitar 25 persen kebutuhan tebu dari daerah setempat karena keterbatasan produksi komoditas tersebut di DIY.

"Jadi yang 75 persen mendatangkan dari luar, utamanya dari Kabupaten Sragen yang jadi pusat perebutan seluruh wilayah, baik Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat," katanya.

Menurut dia, perputaran uang dalam perdagangan tebu di Sragen dapat mencapai Rp300 miliar. Potensi ekonomi tersebut dinilai dapat terserap di DIY apabila produksi tebu mampu memenuhi kebutuhan pabrik.

"Oleh karenanya kalau kita bisa memperluas tanaman kita sendiri di DIY, sehingga pergerakan ekonominya akan beralih ke DIY, tidak lagi keluar dari DIY," ujarnya.

Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026