Samarinda (ANTARA) - Perum Bulog Kantor Wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimtara) memastikan stok beras sebanyak 15.000 ton dalam kondisi aman untuk menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan di wilayah tersebut hingga akhir tahun 2026.
Kepala Perum Bulog Kanwil Kaltimtara Musazdin Said di Samarinda, Jumat, menegaskan bahwa ketersediaan stok tersebut saat ini difokuskan untuk mendukung berbagai program pemerintah, termasuk penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat.
"Penyaluran bantuan pangan telah dilakukan sejak Juli hingga September 2026 dan akan dilanjutkan kembali hingga Desember sesuai dengan penugasan dari pemerintah pusat," kata Musazdin saat menjadi pembicara dalam diskusi ketahanan pangan di Samarinda.
Selain bantuan pangan, Bulog Kaltimtara juga aktif menjaga stabilitas harga komoditas pokok tersebut melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM) di sejumlah titik operasional
Menurut dia, langkah taktis ini diambil sebagai strategi konkret dalam menekan laju inflasi daerah, khususnya pada sektor pangan yang rawan mengalami fluktuasi harga akibat dampak musim kemarau.
Kendati stok nasional regional dipastikan aman, Musazdin tidak menampik bahwa ketahanan pangan di Kaltim masih menghadapi tantangan berat dari sisi kapasitas produksi lokal dan ketersediaan pasokan beras domestik.
Untuk menyiasati keterbatasan produksi tersebut dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, Bulog menerapkan mekanisme pemerataan stok antar wilayah.
"Lewat sistem ini, pasokan beras Kaltim didatangkan dari wilayah yang mengalami surplus produksi, seperti Pulau Jawa dan Sulawesi," jelasnya.
Mekanisme transfer stok ini terbukti efektif dalam menjaga keseimbangan pasokan di wilayah Kaltimtara yang secara geografis masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah.
Pewarta: Arumanto
Editor : Helti Marini S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.