BSSN siapkan migrasi kriptografi hadapi ancaman komputasi kuantum - ANTARA News Gorontalo

2026/10/20

Denpasar (ANTARA) - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyiapkan migrasi kriptografi nasional untuk mengantisipasi ancaman komputasi kuantum yang berpotensi melemahkan sistem enkripsi yang digunakan saat ini.

Persiapan tersebut mencakup penyusunan kebijakan, inventarisasi aset kriptografi, penguatan kemampuan teknis, serta pengembangan sumber daya manusia dan industri dalam negeri.

Wakil Kepala BSSN Komisaris Jenderal Polisi Albertus Rachmad Wibowo di Denpasar, Selasa, mengatakan perkembangan komputasi kuantum menjadi tantangan baru bagi keamanan siber karena teknologi tersebut berpotensi mempercepat proses pemecahan algoritma kriptografi yang selama ini digunakan untuk melindungi data.

"Kita sekarang sudah punya kriptografi, tetapi ketika nanti quantum computing itu hadir, maka kekuatan kriptografi yang ada saat ini itu bisa dengan cepat diretas," ujarnya dalam salah satu sesi Bali Tech Week 2026 di Sanur.

Menurut Rachmad, sejumlah ahli memperkirakan teknologi komputasi kuantum dapat siap digunakan dalam beberapa tahun mendatang.

Perkiraan tersebut bahkan bergerak lebih cepat, dari 2030 menjadi kemungkinan 2028.

Untuk itu, Indonesia perlu mempersiapkan langkah antisipasi sejak dini agar data strategis dan layanan penting tidak rentan ketika teknologi tersebut semakin berkembang.

BSSN telah menyusun peta jalan kemandirian kriptografi periode 2027–2035 yang dibagi menjadi tiga fase. Fase pertama pada 2027–2029 berfokus pada pembangunan fondasi dan kesiapan (foundation and readiness).

Fase kedua pada 2030–2032 diarahkan pada implementasi dan integrasi (implementation and integration). Selanjutnya, fase ketiga pada 2033–2035 menargetkan terwujudnya kedaulatan kriptografi (cryptographic sovereignty).

Rachmad menjelaskan salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah metode harvest now, decrypt later.

Dalam metode ini, pelaku mencuri dan menyimpan data terenkripsi saat ini untuk mencoba membukanya di kemudian hari ketika kemampuan teknologi sudah memungkinkan.

"Jadi, mereka harvest sekarang, decrypt nanti,” katanya.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BSSN membentuk gugus tugas dan menyiapkan sejumlah langkah, antara lain membangun kebijakan serta tata kelola nasional yang terkoordinasi, melakukan inventarisasi dan menentukan prioritas aset kriptografi, serta memperkuat kemampuan teknis, standar, dan penjaminan keamanan.

BSSN juga mendorong pengembangan talenta dan industri kriptografi dalam negeri sekaligus memperluas kerja sama internasional.

Rachmad menekankan pentingnya keterlibatan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dalam mengidentifikasi data strategis yang harus dilindungi.

Data-data tersebut perlu memiliki cadangan dan diprioritaskan dalam proses migrasi menuju sistem kriptografi yang lebih siap menghadapi ancaman komputasi kuantum.

Menurut ia, upaya tersebut tidak dapat dilakukan sendiri oleh BSSN. Perguruan tinggi dan peneliti dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi serta talenta, sedangkan industri diharapkan menyediakan solusi yang memenuhi standar keamanan.

BSSN akan menjalankan fungsi koordinasi, supervisi, dan evaluasi untuk melihat kesiapan nasional menghadapi perkembangan teknologi tersebut.

Rachmad menegaskan persiapan tidak bisa ditunda karena waktu kemunculan teknologi komputasi kuantum yang mampu mengancam sistem kriptografi saat ini masih memiliki ketidakpastian.

Oleh sebab itu, inventarisasi aset dan perencanaan migrasi perlu dimulai sebelum ancaman tersebut benar-benar terwujud.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BSSN siapkan migrasi kriptografi hadapi ancaman komputasi kuantum

Pewarta: Rolandus Nampu
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.