BPS Bali ungkap panen melimpah dan permintaan tinggi dorong deflasi - ANTARA News Bali

2026/08/03

Denpasar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencermati panen yang melimpah dan permintaan yang tinggi menyebabkan sejumlah komoditas dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami deflasi pada Juli 2026 sebesar 0,51 persen.

“Jadi faktor pendorong itu karena panen melimpah, kemudian bobotnya (kebutuhannya) tinggi pas di komoditas-komoditas itu, jadi dia besar menyumbang deflasi,” kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Senin.

Ia menyebutkan kelompok pengeluaran yang memberi andil deflasi terbesar yaitu Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan deflasi 2,34 persen dan memberi andil terhadap deflasi 0,75 persen.

Kelompok kedua yang juga mengalami deflasi yaitu Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan deflasi 0,66 persen namun memberi andil hanya 0,06 persen.

“Jadi kedua kelompok inilah yang menyebabkan terjadinya deflasi untuk bulan Juli 2026, sementara kelompok lainnya masih mencatatkan terjadinya kenaikan harga (inflasi),” ujarnya.

BPS Bali melihat fenomena deflasi pada Juli ini berbeda dengan bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya, seperti pada tahun 2023 di bulan Juli terjadi inflasi 0,34 persen, tahun 2024 inflasi 0,10 persen, dan 2025 inflasi 0,32 persen.

“Juli itu 4 tahun terakhir baru kali ini deflasi, jadi karena faktor pendorong komoditas itu dikonsumsi banyak orang, hampir semua masyarakat konsumsi beras, sayur, cabai, berbeda dengan transportasi pesawat kan tidak semua masyarakat mengkonsumsi makanya makanan, minuman, dan tembakau paling dominan memberi pengaruh,” tutur Agus Gede.

Jika dibedah lebih jauh terdapat sembilan komoditas utama penyumbang deflasi 0,51 persen yaitu cabai rawit yang mengalami inflasi 31,08 persen dan memberi andil 0,18 persen terhadap total inflasi, disusul bawang merah deflasi 19,67 persen dan andil 0,16 persen, dan cabai merah deflasi 29,38 persen dan memberi andil 0,08 persen.

Selanjutnya daging ayam ras deflasi 3,01 persen dengan andil 0,08 persen, buncis inflasi 33,38 persen dengan andil 0,04 persen, daging babi deflasi 3,71 persen dengan andil 0,04 persen, tomat deflasi 16,03 persen dengan andil 0,04 persen, kacang panjang deflasi 26,13 persen dengan andil 0,02 persen, dan komoditas jeruk deflasi 8,86 persen dengan kontribusi terhadap total deflasi 0,02 persen.

Jika dilihat berdasarkan cakupan wilayahnya, BPS Bali menemukan deflasi paling dalam pada Juli 2026 secara bulan ke bulan terjadi di Singaraja dengan 0,91 persen, disusul Badung 0,59 persen, Tabanan 0,56 persen, dan Denpasar 0,30 persen.

Agus Gede menambahkan kondisi deflasi hanya terjadi pada kondisi bulan ke bulan, sementara untuk kondisi tahun ke tahun pada Juli 2026 terhadap Juli 2025 terjadi inflasi 2,42 persen.

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.