BP Batam petakan 133 titik prioritas penanganan banjir
Kamis, 27 Agustus 2026 15:01 WIB
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra saat audiensi di BP Batam, Kepri, Kamis (27/8/2026). (ANTARA/Amandine Nadja)
Batam (ANTARA) - Badan Pengusahaan (BP) Batam, Kepulauan Riau, memetakan sebanyak 133 titik prioritas percepatan penanganan banjir dengan berbagai upaya, seperti peningkatan kapasitas drainase, penambahan kolam retensi, pembangunan bangunan pelintas, hingga infrastruktur penyaring sampah.
Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam Mouris Limanto mengatakan pemetaan tersebut dilakukan setelah beberapa kejadian banjir pada akhir 2025.
“Total ada 133 titik genangan dan banjir yang menjadi prioritas. Penanganannya membutuhkan waktu karena harus melalui tahapan perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan pekerjaan. Namun kami terus bekerja setiap hari untuk mempercepat penanganan,” kata Mouris saat dikonfirmasi di Batam, Kamis.
“Upaya yang kami lakukan itu melalui peningkatan infrastruktur drainase prioritas, pembangunan saluran dan bangunan drainase, pemeliharaan serta normalisasi saluran, hingga pengendalian genangan di lokasi-lokasi rawan banjir,” kata dia.
Hingga 2026, Mouris mengatakan sebanyak 25 titik banjir telah tertangani.
Selain itu, BP Batam juga menyiapkan 19 paket pekerjaan pendukung penanganan banjir yang akan dilaksanakan pada periode 2026-2027.
“Ada beberapa pekerjaan seperti peningkatan drainase di kawasan Melcem Batu Ampar, dan di Perumahan Cendana dan kawasan KDA. Lalu ada pembangunan jembatan di kawasan RS Bhayangkara dan Teluk Belian, normalisasi drainase kawasan industri, serta pembangunan bangunan pelintas saluran drainase di Bengkong Palapa,” kata dia.
Baca juga: Dishub Batam validasi 522 titik parkir jalan
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra mengatakan penanganan banjir di Batam memerlukan perencanaan yang matang karena sebagian kawasan, khususnya di Bengkong dan Lubuk Baja, sudah berkembang menjadi wilayah padat penduduk.
Menurut dia, banyak saluran drainase yang terputus akibat perkembangan kawasan sehingga diperlukan perbaikan secara teknis agar aliran air dari hulu ke hilir bisa berjalan baik dan lancar.
“Kota yang maju itu memiliki perencanaan yang baik. Hari ini kita membenahi yang sudah ada. Ada saluran yang terputus karena pembangunan kawasan, sehingga harus dicari jalur alternatif agar aliran air tetap lancar. Ini membutuhkan waktu,” katanya.
Li menambahkan penanganan banjir di kawasan padat penduduk tidak dapat diselesaikan secara instan karena membutuhkan penyesuaian dengan kondisi lapangan serta pembangunan infrastruktur pendukung yang memadai.
Baca juga:
Bulog Natuna libatkan aparat kecamatan salurkan bantuan pangan di perbatasan
BKHIT Kepri tahan komoditas pertanian tanpa kelengkapan surat di Natuna
Pewarta : Amandine Nadja
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.