Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan krisis kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia berpotensi berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Kondisi ini diperparah fenomena El Nino kuat yang memicu cuaca lebih panas dan kering di kawasan Asia Tenggara.
Direktur Kantor Regional WMO untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill, mengatakan kombinasi El Nino dan musim kemarau menciptakan kondisi ideal bagi kebakaran untuk meluas. Asap dari kebakaran di Indonesia bahkan menyumbang sekitar separuh emisi asap global selama tujuh hari sejak 8 Oktober 2026, berdasarkan data layanan Fire Emissions Watch milik program Copernicus Uni Eropa.
"Kita semakin sering melihat hari dan jam yang tidak sehat bermunculan. Saya memperkirakan ini akan terus berlanjut," kata Churchill, melansir The Straits Times, Minggu (18/10/2026).
Churchill mengatakan, kondisi tersebut tidak hanya menjadi persoalan Indonesia, tetapi juga negara-negara tetangga yang terdampak kabut asap. Ia mendorong negara-negara ASEAN memperkuat kerjasama, termasuk melalui penggunaan bersama peralatan pemadam kebakaran, pertukaran keahlian, serta pengerahan tim lintas negara secara cepat.
"Saat ini kita memang sedang mengamati Indonesia, tentu saja, tetapi hal ini bisa terjadi di mana saja, kepada siapa saja, kapan saja, berdasarkan prasyarat yang kita lihat terkait pemanasan global, serta efek gabungan dari El Nino," ujarnya.
Menurut dia, hujan monsun menjadi salah satu harapan utama untuk membantu memadamkan kebakaran. Namun, waktu peralihan musim masih belum pasti karena El Nino kuat berpotensi mengganggu perubahan pola cuaca.
"Idealnya, kami terus berharap bahwa Indonesia, dengan bantuan dukungan internasional lainnya, akan terus melakukan yang terbaik," tutur dia.
"Tetapi yang terbaik saja tidak selalu cukup. Jadi, ya, inilah yang kami harapkan dengan datangnya monsun, dan monsun memang membawa hujan," sambungnya.
Churchill menegaskan, upaya pencegahan juga perlu diperkuat melalui perbaikan pengelolaan lahan, penegakan aturan, serta edukasi bagi petani dan perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran.
"Saya pikir jika kita mengatasinya sejak dini, kita mengubah praktik kita dan melakukan yang terbaik, secara kolektif untuk mengubah praktik pengelolaan lahan kita, memperketat peraturan dan mendidik para petani dan perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran, saya pikir kita dapat melangkah jauh untuk memastikan dan melindungi keselamatan, keamanan, dan kemakmuran bagi komunitas ASEAN," pungkas Churchill.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]