Istanbul (ANTARA) - Israel harus melaksanakan komitmennya berdasarkan peta jalan perdamaian Gaza agar proses tersebut dapat terus berjalan, kata Nickolay Mladenov, Perwakilan Tinggi Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) untuk Gaza, Senin (7/9).
Berbicara di Forum Hili ketiga di Abu Dhabi, Mladenov mengatakan bahwa kemajuan telah dicapai dibandingkan dengan setahun yang lalu, namun situasi masih jauh dari apa yang diperlukan untuk mencapai solusi politik.
"Kita masih berada pada titik di mana kita perlu memastikan bahwa apa yang telah disepakati akan dilaksanakan dan akan mengubah kehidupan masyarakat di Gaza secara signifikan," katanya.
"Sayangnya, kita belum sampai di tahap itu," tambahnya.
Dia juga menyebutkan bahwa diskusi dengan Israel terus berlanjut mengenai "pelaksanaan bagian dari komitmen mereka" yang diperlukan untuk memajukan proses tersebut, yang mencakup penarikan pasukan sebagai imbalan atas pelucutan senjata Hamas dan dimulainya rekonstruksi di wilayah kantong Palestina itu.
Mladenov menyoroti negosiasi selama tujuh bulan dengan Hamas mengenai pelucutan senjata, menggambarkannya sebagai "diskusi yang sangat intens dan sangat sulit," serta memuji upaya mediasi Turkiye, Mesir, dan Qatar, juga dukungan dari UAE dan negara-negara kawasan lainnya.
Dia mengatakan bahwa penduduk Gaza terus hidup dalam "kondisi yang mengerikan" dan tidak mungkin menghadapi musim dingin lagi dalam situasi saat ini.
Mladenov memaparkan tiga kemungkinan langkah: mempertahankan situasi saat ini, memperluas operasi militer Israel dan menduduki kembali Gaza, atau melaksanakan peta jalan Dewan Perdamaian.
Dia menggambarkan opsi ketiga sebagai pilihan yang "masuk akal," seraya mengatakan bahwa opsi itu menuntut pelucutan senjata melalui kesepakatan, penarikan pasukan Israel yang disepakati bersama, serta rekonstruksi dengan dukungan internasional dan regional.
Mladenov memperingatkan bahwa kegagalan untuk memajukan peta jalan tersebut dapat membuat solusi dua negara menjadi "praktis mustahil" untuk dicapai.
"Satu-satunya cara kita bisa kembali ke arah itu adalah jika kita memiliki pemerintahan transisi, jika ada pelucutan senjata, dan jika ada penarikan pasukan dari Gaza," ujarnya.
Saat ditanya apakah pemerintahan baru Israel dapat menolak komitmen pemerintah saat ini setelah pemilihan umum Oktober, Mladenov mengakui bahwa masa pemilihan sering kali memicu "reaksi spontan" dan manuver politik.
Namun, dia mengatakan bahwa pada akhirnya rakyat Israel ingin beranjak dari tragedi yang terus berlangsung di Gaza.
Dia mengatakan bahwa krisis tersebut telah menyebabkan "penderitaan emosional, politik, dan kemanusiaan yang luar biasa" bagi warga Israel—di samping tragedi kemanusiaan di Gaza—dan berpendapat bahwa diperlukan perspektif jangka panjang terlepas dari tekanan politik jangka pendek akibat kampanye pemilihan umum.
"Baik warga Palestina maupun Israel tidak akan pergi ke mana-mana. Tidak ada pihak yang akan meninggalkan rumah mereka," katanya, seraya menekankan perlunya memulihkan dialog politik dan mencari jalan agar kedua bangsa dapat hidup berdampingan.
Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) dibentuk pada Januari sebagai bagian dari rencana lebih luas Presiden AS Donald Trump untuk Gaza, dengan Trump menjabat sebagai ketuanya.
Inisiatif yang didukung oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 itu bertugas mengawasi transisi Gaza, termasuk aspek tata kelola, keamanan, dan rekonstruksi.
Sebuah badan teknokratis Palestina, Komite Nasional untuk Administrasi Gaza, juga dibentuk untuk mengambil alih tanggung jawab atas administrasi sipil, pemulihan layanan publik, dan pembangunan kembali berbagai institusi di wilayah tersebut.
Dewan Perdamaian menerbitkan peta jalan pada 31 Juli untuk pelaksanaan tahap berikutnya dari rencana Gaza, yang mencakup pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel secara bertahap, pengalihan administrasi kepada komite teknokratis Palestina, pengerahan pasukan stabilisasi internasional, serta rekonstruksi.
Forum Hili ketiga sedang diselenggarakan di Abu Dhabi dengan tema "Teluk di Persimpangan Jalan: Konflik, Konsekuensi, dan Koreksi Arah."
Forum tersebut diselenggarakan bersama oleh Emirates Center for Strategic Studies and Research dan Anwar Gargash Diplomatic Academy.
Sumber: Anadolu
Baca juga: PBB desak Israel akhiri kekerasan terhadap rakyat Palestina, Lebanon
Baca juga: Sekitar 846.000 siswa Palestina kembali bersekolah di Tepi Barat
Baca juga: Indonesia kutuk petinggi zionis yang dukung pengusiran warga Gaza
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.