Sejumlah warga mengisi air saat distribusi bantuan air di Desa Neglasari, RT 03/RW 02, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026). Menurut warga setempat, krisis air telah terjadi sejak pertengahan Mei 2026 lalu akibat kekeringan pada musim kemarau
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bencana kekeringan menghantam 13 provinsi di Indonesia. BNPB menyiapkan sejumlah upaya guna mengatasi dampak kekeringan tersebut terhadap aktivitas masyarakat.
Berdasarkan data BNPB hingga pertengahan Juli ini, titik kekeringan terbanyak ada di Jawa Tengah dengan 15 titik. Menyusul berikutnya Jawa Barat (13 titik), Jawa Timur (6 titik), dan Nusa Tenggara Barat (4 titik).
"Totalnya ada 51 titik (kekeringan) dengan warga terdampak 23.937," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari kepada Republika, Kamis (16/7/2026).
Abdul menjelaskan, Indonesia saat ini mengalami musim kemarau sebagai dampak fase periode El Nino. Kondisi ini sudah menjadi atensi BNPB dengan menyiapkan fase siaga darurat hingga nanti tanggap darurat.
"Maka yang kita prioritaskan untuk penguatan langkah-langkah yang dilakukan oleh BNPB, pertama melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) sekiranya awan hujannya memadai," ujar Abdul.
Abdul menyebut OMC ini ditunjukkan untuk membasahi kawasan hulu demi mengisi kembali catchment area atau area penampungan hujan. Sehingga nantinya akan berujung di sumur-sumur warga atau juga mengisi waduk-waduk, embung-embung, danau-danau yang mungkin volume airnya sudah berkurang karena musim kemarau.
"Tetapi sekali lagi, ini sangat bergantung pada ketersediaan awan hujan seperti kasus TPA Jatiwaringin (kebakaran) Minggu lalu BNPB menyiapkan armada modifikasi cuaca tetapi tidak bisa dilakukan karena ketiadaan awan hujan yang memadai," ujar Abdul.
Kemudian BPPB dari sisi preparedness telah membangun sumur bor di daerah yang memang secara historis mengalami sulit air atau menderita bencana kekeringan yang berulang.
"Ini pada umumnya kita bangun di NTT, NTB, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera tentu saja dan ke daerah-daerah lain yang secara historis dan melaporkan kepada BNPB itu mengalami kekeringan yang berulang," ujar Abdul.