Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat jumlah gempa bumi susulan di kawasan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Selasa malam ini mencapai 2.403 kali, pascagempa utama bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus lalu.
Berdasarkan data yang diekspose laman resmi BMKG di Jakarta, Selasa malam, getaran gempa bumi susulan tersebut terekam dengan variasi magnitudo paling kecil 1,3 magnitudo hingga terbesar 6,2 magnitudo
Dari total ribuan guncangan susulan tersebut, BMKG mencatat sebanyak 24 kali gempa memiliki magnitudo di atas 5,0, sementara gempa susulan yang guncangannya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat berjumlah 72 kejadian.
Aktivitas gempa susulan yang masih terus terjadi di zona tektonik Flores Back-Arc ini menuntut kewaspadaan berkelanjutan dari masyarakat di Pulau Flores dan sekitarnya.
BMKG mengimbau warga terdampak untuk tidak menempati bangunan atau rumah yang mengalami retakan struktural serta dipastikan tidak aman guna menghindari risiko kerobohan akibat guncangan susulan.
Selain itu, masyarakat diminta tetap tenang, tidak terpengaruh oleh isu atau hoaks kebencanaan yang tidak jelas sumbernya, serta selalu memperbarui perkembangan data tektonik resmi melalui aplikasi dan kanal komunikasi terverifikasi BMKG.
Adapun berdasarkan data dari Pusat Data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) total sampai dengan Selasa (18/8) malam jumlah korban meninggal dunia sebanyak 70 orang, 230 orang luka berat dan 308 orang luka ringan.
Para korban tersebut merupakan warga dari enam kabupaten, yakni Manggarai Timur, Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka yang mengalami guncangan gempa terbesar mencapai intensitas maksimum VII - VIII MMI, pada 15 Agustus 2026.
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.