Samarinda (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) bersama mitra pengelola kawasan konservasi membangun empat kubangan air di jalur perlintasan satwa, guna mencegah satwa liar dehidrasi akibat kemarau panjang yang memicu berkurangnya sumber air alami di dalam hutan.
Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto di Samarinda, Selasa, menyampaikan langkah ini diambil sebagai respons mendesak terhadap kondisi kekeringan ekstrem yang tidak hanya mengeringkan sungai dan rawa, tetapi juga menurunkan kandungan air pada pucuk daun dan buah yang menjadi sumber asupan cairan alami satwa liar.
"Pada kemarau yang tidak ekstrem, kebutuhan air satwa masih terpenuhi dari sumber air langsung maupun dari pakan yang dikonsumsi. Namun saat ini kondisinya jauh lebih berat, sehingga kami mengantisipasi dengan menyediakan kubangan di titik-titik jalur perlintasan mereka," ujarnya.
Data lapangan menunjukkan sejak Juli 2026 tercatat 13 individu orang utan telah diselamatkan dari berbagai lokasi. Sebagian besar mengalami dehidrasi berat, antara lain ada yang menderita malnutrisi hingga harus dirawat di Pusat Rehabilitasi Satwa Long Sam.
Termasuk, lanjutnya, pasangan induk dan anak yang kini dalam pemulihan, sehingga kondisi ini mendorong pembangunan empat kubangan pada tahap awal di kawasan bernilai konservasi tinggi yang dikelola bersama mitra usaha.
Kubangan berukuran sekitar 1x1 meter dengan kedalaman setengah hingga satu meter dibangun di ceruk tanah atau bekas aliran sungai kecil yang mengering, serta sengaja ditempatkan di lokasi tersembunyi agar tidak dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk perburuan.
Sebanyak empat kubangan tersebut berada di kawasan hutan pada Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur. Setiap lokasi dipasang kamera jebak untuk memantau pemanfaatan sekaligus mengukur efektivitas kubangan.
"Jika hasil pemantauan menunjukkan manfaat nyata, program ini akan segera diperluas. Kami juga telah mengirimkan surat edaran kepada perusahaan kehutanan, perkebunan, dan pertambangan agar turut menyediakan fasilitas serupa di kawasan masing-masing," ujar Ari.
Pendiri Conservation Action Network (CAN) Paulinus Kristanto menyambut baik inisiatif tersebut. Kekeringan panjang dan fragmentasi hutan membuat satwa semakin sulit mendapatkan air saat berpindah antar-kawasan.
"Kehadiran kubangan ini tentu sangat membantu mereka tetap bermigrasi dan bertahan hidup, sekaligus untuk mengurangi risiko masuk ke area permukiman guna mencari air," katanya.
Ia menyebut upaya ini menjadi langkah strategis menjaga kelestarian orang utan dan satwa lainnya, sekaligus mencegah konflik manusia dan satwa di tengah cuaca ekstrem yang diprediksi masih berlangsung.
Pewarta: Rahmad
Editor : M.Ghofar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.