Bisnis Advisory dan Pembiayaan IIF Melesat pada Semester I 2026

2026/07/31

ILUSTRASI. Indonesia Infrastructure Finance (IIF) (Dok/Indonesia Infrastructure Finance (IIF))

Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) mencatat peningkatan signifikan pada bisnis pembiayaan dan layanan advisory sepanjang semester I 2026.

Perseroan membukukan komitmen pembiayaan dan investasi baru senilai Rp 2,5 triliun, atau lebih dari tiga kali lipat dibandingkan total realisasi sepanjang 2025 yang mencapai Rp 799 miliar.

Baca Juga: Perbankan Getol Dorong Pembiayaan Hijau, Ini Sektor yang Dibidik

Hingga Juni 2026, total aset IIF mencapai Rp 15 triliun, tumbuh 4,6% secara tahunan (year on year/YoY). Sementara aset produktif yang terdiri dari pinjaman dan surat berharga meningkat 4,9% yoy menjadi Rp 13,4 triliun.

Sepanjang semester I 2026, IIF membukukan enam komitmen pembiayaan dan investasi baru yang tersebar pada sektor kesehatan, pelabuhan, telekomunikasi dan pusat data, serta energi terbarukan.

Di sisi lain, bisnis advisory juga menunjukkan pertumbuhan pesat. IIF memperoleh sembilan mandat baru dengan total nilai kontrak Rp 19 miliar atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun 2025.

Salah satu mandat utama tersebut adalah keterlibatan IIF dalam program Waste-to-Energy (WTE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) guna mendukung percepatan pengelolaan sampah terpadu di kawasan perkotaan.

Meski aktivitas bisnis meningkat, pendapatan operasional IIF pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp 542,7 miliar, turun dari Rp 653,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Inflasi Tahunan pada Juli 2026 Diproyeksi Naik Jadi 3,54%

Penurunan tersebut terutama disebabkan lebih rendahnya pendapatan bunga investasi setelah adanya pelunasan dipercepat oleh sejumlah nasabah pada kuartal I 2026.

Laba bersih IIF juga turun menjadi Rp 38,2 miliar dari Rp 85,3 miliar pada semester I 2025. Selain dipengaruhi pelunasan dipercepat tersebut, penurunan laba juga disebabkan penerapan kebijakan pencadangan yang lebih konservatif.

Namun demikian, pendapatan non-bunga meningkat 54,8% yoy menjadi Rp 43 miliar, ditopang oleh pertumbuhan bisnis pembiayaan, investasi, advisory, serta treasury. Pendapatan bunga dari bisnis treasury juga naik 17,5% secara tahunan.

Dari sisi permodalan, IIF mencatat Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 56,79%, jauh di atas ketentuan minimum regulator.

Perseroan juga menjaga kualitas aset dengan rasio cakupan kerugian pinjaman di atas 100% dan rasio pembiayaan bermasalah (Net Performing Financing/NPF) bersih yang membaik menjadi 3,49% dari sebelumnya 3,61%.

Baca Juga: Pemicu Rata-Rata Yield Kredit Industri Perbankan Turun hingga Mei 2026

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer IIF Rizki Pribadi Hasan mengatakan, kinerja tersebut menunjukkan ketahanan perusahaan di tengah dinamika ekonomi global.

"Di tengah dinamika ekonomi global, IIF terus menunjukkan ketahanan melalui pertumbuhan portofolio, peningkatan aktivitas pembiayaan dan advisory, serta struktur pendanaan dan permodalan yang semakin kuat. Meskipun laba pada semester I lebih rendah, kami optimistis dapat terus memperluas bisnis dan meningkatkan kinerja keuangan, didukung oleh permodalan yang kuat, peningkatan layanan, penurunan biaya dana, serta dukungan dan kolaborasi yang kuat dari para pemegang saham dan mitra bisnis," ujarnya melalui keterangan Jumat (31/7/2026).

Rizki menambahkan, IIF terus mendorong penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam setiap proyek.

Menurutnya, implementasi ESG tidak hanya meningkatkan kualitas proyek dan manajemen risiko, tetapi juga memperluas akses terhadap pembiayaan internasional sekaligus mendukung keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Baca Juga: Allo Bank Bukukan Laba Rp 234 Miliar Semester I-2026

Ia mengungkapkan, pada Juli 2026 IIF telah menyelesaikan tiga transaksi baru dengan nilai hampir Rp 833 miliar yang mencakup sektor infrastruktur logistik, energi terbarukan, dan fasilitas pengolahan air.

Untuk mendukung ekspansi bisnis, IIF juga memperkuat kapasitas pendanaan dengan menghimpun dana lebih dari Rp 1,3 triliun dari lembaga keuangan domestik maupun internasional.

Selain itu, perseroan telah menyelesaikan tahap pertama program penghimpunan dana melalui pasar modal senilai Rp 652 miliar, yang terdiri dari penerbitan obligasi sebesar Rp 432 miliar dan surat berharga perpetual senilai Rp 220 miliar.

Dengan permodalan yang kuat dan pipeline proyek yang terus bertambah, IIF optimistis dapat terus mendukung pembangunan infrastruktur nasional sekaligus memperluas layanan pembiayaan dan advisory pada periode mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag