Jakarta (ANTARA) - Sambaran petir sering dianggap sebagai kejadian yang hampir pasti berujung pada kematian. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Seseorang yang tersambar petir masih bisa selamat, meskipun dapat mengalami berbagai cedera serius dan membutuhkan pertolongan medis secepat mungkin.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat hampir 90 persen korban sambaran petir dapat bertahan hidup. Namun, sekitar 10 persen korban meninggal dunia, dengan henti jantung menjadi salah satu penyebab kematian yang paling umum.
Artinya, sambaran petir memang merupakan kondisi gawat darurat, tetapi bukan berarti korban tidak memiliki peluang untuk diselamatkan.
Baca juga: Kenapa petir sering menyertai hujan lebat? Begini proses terbentuknya
Baca juga: Korban jiwa akibat sambaran petir di Kamboja turun 48 persen
Lantas, bagaimana seseorang bisa selamat setelah tersambar petir?
Salah satu hal yang perlu dipahami adalah energi petir tidak selalu mengalir sepenuhnya melalui tubuh seseorang.
CDC menjelaskan, manusia dapat mengalami cedera akibat beberapa mekanisme, antara lain sambaran langsung, aliran listrik dari benda yang tersambar petir, side flash atau lompatan arus dari objek di dekat korban, hingga arus listrik yang menyebar melalui permukaan tanah.
Pada kondisi tertentu, sebagian arus juga dapat mengalir di permukaan tubuh. Karena itu, tingkat cedera setiap korban bisa berbeda-beda.
Ada korban yang mengalami henti jantung, luka bakar, gangguan saraf atau kehilangan kesadaran. Namun, ada pula yang mengalami cedera lebih ringan dan dapat pulih setelah mendapatkan perawatan.
Jantung menjadi salah satu bagian tubuh yang paling kritis
Salah satu alasan sambaran petir dapat berakibat fatal adalah kemampuannya mengganggu sistem kelistrikan jantung.
Korban dapat mengalami henti jantung atau gangguan irama jantung. Jika kondisi ini terjadi, pertolongan dalam hitungan menit sangat penting.
Sayangnya, di Indonesia masih sering terdengar anggapan bahwa korban sambaran petir bisa ditangani dengan tindakan tradisional seperti ditimbun tanah. Padahal, korban sebenarnya butuh penanganan kegawatdaruratan sesegera mungkin.
Seseorang yang tersambar harus segera dipindahkan ke lokasi yang aman, setelah itu pertolongan dapat dilanjutkan dengan resusitasi jantung paru atau RJP hingga bantuan medis datang.
Jadi, anggapan bahwa korban sambaran petir harus segera ditanam atau ditimbun tanah agar bisa selamat merupakan mitos. Tindakan tersebut justru dapat membuang waktu yang seharusnya digunakan untuk memberikan pertolongan.
Baca juga: Mengapa hujan lebih sering turun pada sore dan malam hari?
Kasus penyintas sambaran petir juga pernah terjadi di Indonesia.
Pada Januari 2010 silam, sebanyak 14 orang yang sedang mengikuti kegiatan perkemahan di Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi korban sambaran petir. Sebanyak 12 orang diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan, sementara dua lainnya harus menjalani perawatan di RSUD Tasikmalaya karena kondisinya masih lemah dan petir diduga memengaruhi kerja jantung.
Kasus lain terjadi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada 2020. Dua warga yang sedang berteduh terkena sambaran petir setelah petir menyambar bagian atas sebuah alat berat. Keduanya sempat tidak sadarkan diri dan kemudian dibawa ke RSUD Larantuka. Setelah mendapatkan perawatan, keduanya dilaporkan selamat.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa korban sambaran petir memang dapat bertahan hidup, terutama ketika segera mendapatkan pertolongan dan penanganan medis.
Bukan hanya jantung, sistem saraf juga bisa terdampak
Selamat dari sambaran petir bukan berarti tubuh pasti terbebas dari dampak jangka panjang.
National Weather Service menjelaskan bahwa cedera akibat petir banyak melibatkan sistem saraf. Penyintas dapat mengalami sakit kepala, pusing, gangguan keseimbangan, kebingungan, masalah ingatan, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Pada sebagian korban, gangguan tersebut dapat berlangsung lebih lama dan membutuhkan evaluasi serta perawatan medis.
Selain itu, petir juga dapat menyebabkan luka bakar, cedera otot, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, hingga cedera akibat korban terjatuh atau terlempar.
Baca juga: Kenapa bau tanah muncul setelah hujan? Ini penjelasan ilmiahnya
Roy Sullivan, selamat dari tujuh sambaran petir
Salah satu contoh paling ekstrem datang dari Amerika Serikat.
Roy C. Sullivan, seorang mantan penjaga taman nasional di Virginia, tercatat oleh Guinness World Records sebagai orang yang paling banyak selamat dari sambaran petir, yakni sebanyak tujuh kali.
Sambaran pertama terjadi pada 1942. Dalam berbagai kejadian berikutnya, Sullivan mengalami sejumlah cedera, seperti luka bakar, rambut terbakar, cedera pada kaki dan bahu, hingga luka bakar di bagian dada dan perut.
Sambaran ketujuh terjadi pada 1977 ketika ia sedang memancing. Sullivan kembali selamat.
Kisah tersebut tentu bukan berarti seseorang aman jika berada di luar saat badai petir. Justru sebaliknya, kasus Sullivan menunjukkan bahwa manusia memang dapat bertahan dari sambaran petir, tetapi risiko cedera dan kematian tetap nyata.
Apa yang harus dilakukan jika melihat korban?
Jika melihat seseorang baru saja tersambar petir, hal pertama yang harus diperhatikan adalah keselamatan penolong. Pastikan lokasi sudah cukup aman dari sambaran berikutnya.
Korban petir tidak menyimpan listrik di dalam tubuh sehingga aman untuk disentuh. Setelah berada di tempat aman, segera panggil bantuan medis dan periksa apakah korban bernapas.
Jika korban tidak bernapas atau tidak memiliki tanda-tanda sirkulasi, CPR atau RJP perlu segera dilakukan. Jika tersedia dan dapat digunakan, AED juga dapat membantu dalam kondisi henti jantung.
Jika korban masih bernapas, periksa kemungkinan luka bakar, cedera kepala, patah tulang, atau cedera lain akibat terjatuh.
Yang terpenting, jangan membuang waktu dengan memberikan pertolongan yang tidak terbukti secara medis.
Baca juga: Kenapa udara terasa lembap meski hujan belum rutin? Ini sebabnya
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.