Daftar Isi
Jakarta -
Dulu, punya gigi gingsul sering dianggap kekurangan. Sekarang, banyak orang malah menganggapnya pemanis senyum. Terutama anak muda, tidak sedikit yang justru ingin punya gingsul, bahkan ada yang menjalani perawatan di dokter gigi demi menciptakan ilusi gingsul.
Tren ini bukan cuma ada di Indonesia. Di Jepang, gingsul yang dijuluki "gigi vampir" sempat populer di kalangan remaja dengan nama Yaeba. Istilah ini kerap diartikan sebagai "gigi ganda", merujuk pada taring yang tumbuh menonjol di depan atau di atas gigi sekitarnya. Di sana, gingsul dianggap menggemaskan, mirip anggapan di Indonesia bahwa gingsul membuat senyum terlihat manis.
Tapi, dari sisi kesehatan gigi melihat soal gigi gingsul yang satu ini? Ternyata, ceritanya sedikit berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gingsul Itu Sebenarnya Apa, Sih?
Bayangkan sebuah antrean. Gigi-gigi lain sudah berdiri rapi di tempatnya, lalu gigi taring datang paling akhir dan menemukan ruangannya sudah sempit. Karena tetap harus muncul, ia terpaksa tumbuh menonjol atau miring. Itulah gingsul.
Secara medis, gingsul termasuk maloklusi, yakni kondisi ketika gigi tumbuh di tempat yang tidak seharusnya sehingga tidak sejajar dengan gigi lain. Dalam istilah kedokteran gigi, ini disebut ektopik.
Gingsul paling sering terjadi pada gigi taring, yaitu gigi runcing di sisi kiri dan kanan setelah gigi seri. Alasannya, taring termasuk gigi yang tumbuh paling akhir sehingga ruangnya sering sudah terpakai. Secara teori semua gigi bisa gingsul, tapi taring yang paling sering. Posisinya di sudut senyum pun membuat gingsul mudah terlihat saat tersenyum, dan mungkin itulah sebabnya ia sering dianggap manis.
Bedanya dengan Gigi Berjejal
Dalam keseharian, kita biasanya menyebut gingsul untuk satu gigi, terutama taring, yang tumbuh menonjol. Sementara gigi berjejal dipakai untuk kondisi ketika ruang di rahang tidak cukup untuk semua gigi, sehingga beberapa gigi tumbuh bertumpuk atau miring.
Orang jarang menyebut gigi berjejal sebagai pemanis senyum, padahal akar masalahnya sering sama: ruang yang sempit. Jadi gingsul bisa dibilang salah satu "wajah" dari masalah gigi berjejal.
Kenapa Gigi Bisa Jadi Gingsul?
Penyebabnya macam-macam. Yang paling umum, rahang terlalu kecil atau ukuran gigi terlalu besar sehingga ruangnya tidak cukup. Selain itu, faktor keturunan, riwayat cedera rahang, atau gangguan gigi dan mulut sebelumnya juga bisa berperan.
Jadi, gingsul biasanya bukan akibat kebiasaan buruk atau salah merawat gigi. Pada banyak orang, kondisi ini memang "bawaan lahir".
Manis di Foto, Repot di Kehidupan Nyata
Di foto, gingsul memang bisa terlihat menggemaskan. Tapi dalam keseharian, ada beberapa hal yang kadang bikin repot.
Gigi yang tumbuh tidak rata membuat pembersihan jadi lebih sulit. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gigi berlubang dan radang gusi. Ada juga ketidaknyamanan saat mengunyah, dan gusi bisa cedera saat makan.
Sebagian orang yang memiliki gingsul juga menceritakan hal-hal yang lebih sehari-hari:
- bibir sering tergigit
- makanan gampang nyelip
- karang gigi lebih mudah menumpuk.
Lalu soal rasa percaya diri. Tidak semua pemilik gingsul merasa senyumnya manis. Ada yang justru minder karena merasa gigi terlihat berjejal atau tidak rapi. Dan itu wajar.
Jadi, Gingsul Harus Dirapikan?
Jawabannya: tergantung.
Tidak semua gingsul harus dirawat. Kalau gingsulmu tidak mengganggu, mudah dibersihkan, dan gigitanmu nyaman, tidak ada keharusan untuk mengubahnya. Tapi kalau gingsul sudah menimbulkan masalah, seperti sulit dibersihkan atau mengganggu gigitan, perbaikan dari dokter gigi tetap diperlukan.
Pilihan perawatannya bermacam-macam, mulai dari kawat gigi (logam, keramik, atau yang transparan), pencabutan gigi pada kasus tertentu untuk memberi ruang, sampai prosedur ortodonti lainnya. Mana yang cocok bergantung pada kondisi masing-masing, dan keputusannya diambil dokter gigi atau ortodontis setelah pemeriksaan.
Jadi, jangan menebak-nebak sendiri apalagi memasang alat tanpa pengawasan tenaga profesional.
Kalau Memilih Mempertahankan Gingsul
Bagi yang ingin tetap mempertahankannya, beberapa kebiasaan ini membantu:
- Sikat gigi lebih teliti di area gingsul, karena gigi yang menonjol atau bertumpuk sering menyisakan sisa makanan.
- Bersihkan sela gigi, misalnya dengan benang gigi atau sikat khusus sela gigi, sesuai saran dokter gigi.
- Periksa rutin ke dokter gigi, setidaknya enam bulan sekali, untuk membersihkan karang gigi dan memantau kondisi gingsul.
Soal "Ilusi Gingsul"
Perawatan untuk menciptakan gingsul buatan memang ada dan diminati. Tapi gigi bukan bagian tubuh yang bisa "dikembalikan" semudah mengganti gaya rambut. Kalau tertarik, konsultasikan lebih dulu ke dokter gigi tentang prosedurnya dan risikonya untuk gigi serta gusi.
Antara Tampilan dan Kesehatan
Menyukai gingsul sebagai ciri khas tentu sah-sah saja. Tapi senyum yang manis idealnya ditopang gigi dan gusi yang sehat.
Sama seperti gigi putih yang belum tentu sehat, gingsul yang tampak manis pun perlu dipastikan tidak menyimpan masalah di baliknya. Apa pun bentuk gigimu, yang terpenting adalah menjaganya tetap bersih, nyaman, dan sehat.
(nim/up)