Bersepeda bukan cuma olahraga, kini jadi bagian gaya hidup

2026/09/20

Jakarta (ANTARA) - Bersepeda selama ini mungkin lebih sering dipandang sebagai aktivitas olahraga untuk menjaga kebugaran. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sepeda berkembang menjadi lebih dari sekadar alat untuk berolahraga.

Di berbagai kota, sepeda mulai menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Ada yang menggunakannya untuk pergi bekerja, berkeliling kota, ikut komunitas, hingga sekadar mencari suasana baru di akhir pekan.

Perubahan tersebut membuat aktivitas bersepeda perlahan berkembang menjadi sebuah gaya hidup. Sepeda bukan hanya soal seberapa jauh seseorang mampu mengayuh, tetapi juga tentang berkomunitas, pengalaman, dan cara seseorang menikmati ruang kota.

Baca juga: Jalan kaki dan bersepeda bantu jaga kebugaran usai beribadah haji

Bersepeda dan komunitas

Salah satu hal yang membuat dunia sepeda semakin menarik adalah munculnya berbagai komunitas dengan karakter yang berbeda-beda.

Ada komunitas yang rutin melakukan perjalanan pagi, kelompok yang memilih bersepeda ke kantor, hingga komunitas yang menggabungkan aktivitas bersepeda dengan kegiatan sosial dan lingkungan.

Pada peringatan World Bicycle Day 2026, misalnya, komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia kembali mengampanyekan penggunaan sepeda sebagai salah satu moda transportasi alternatif. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bertemunya para pesepeda untuk memperkuat komunitas sekaligus mendorong penggunaan transportasi yang lebih berkelanjutan.

Artinya, bersepeda tidak selalu dilakukan sendirian. Bagi sebagian orang, aktivitas ini justru menjadi cara untuk bertemu dengan orang baru dan membangun lingkungan pertemanan berdasarkan minat yang sama.

Bukan cuma soal olahraga

Alasan lain yang membuat sepeda semakin dekat dengan gaya hidup adalah fleksibilitasnya.

Sepeda bisa digunakan untuk olahraga, rekreasi maupun mobilitas sehari-hari. Seseorang tidak harus menunggu akhir pekan atau pergi ke pusat kebugaran untuk mulai aktif bergerak.

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan menyebut bersepeda santai sebagai salah satu contoh aktivitas fisik intensitas sedang. Untuk orang dewasa, aktivitas fisik intensitas sedang dianjurkan setidaknya 150 hingga 300 menit dalam satu pekan.

Dengan begitu, bersepeda bisa masuk ke rutinitas harian tanpa harus selalu dianggap sebagai sesi olahraga khusus.

Misalnya, seseorang memilih menggunakan sepeda untuk perjalanan jarak dekat, kemudian melanjutkan aktivitas seperti bekerja, kuliah atau bertemu teman. Aktivitas fisik pun menjadi bagian dari rutinitas, bukan sesuatu yang harus selalu disisihkan dalam jadwal khusus.

Baca juga: Panduan aman bersepeda di jalan raya

Sepeda juga menjadi bagian dari mobilitas kota

Di kota-kota besar, persoalan kemacetan, biaya perjalanan dan kualitas udara membuat pembicaraan mengenai transportasi alternatif semakin relevan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, misalnya, terus mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan melalui berbagai kegiatan ruang publik. Salah satunya adalah Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau HBKB yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berjalan kaki dan bersepeda.

Pada 2026, Pemprov DKI juga memperluas penyelenggaraan HBKB ke kawasan H.R. Rasuna Said. Langkah tersebut tidak hanya ditujukan sebagai ruang olahraga, tetapi juga bagian dari upaya mendorong mobilitas yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Di sisi lain, komunitas seperti B2W menunjukkan bahwa sepeda juga bisa digunakan sebagai sarana menuju tempat kerja. Jadi, sepeda tidak harus selalu identik dengan olahraga pagi atau aktivitas akhir pekan.

Menariknya, perkembangan dunia sepeda juga melahirkan budaya tersendiri.

Jenis sepeda, perlengkapan, pakaian, pilihan rute hingga tempat berkumpul bisa menjadi bagian dari identitas sebuah komunitas. Media sosial kemudian ikut memperkuat fenomena tersebut karena pengalaman bersepeda dapat dengan mudah dibagikan dalam bentuk foto, video maupun catatan perjalanan.

Tidak sedikit pesepeda yang kini menjadikan perjalanan mereka sebagai bagian dari konten. Rute yang dilewati, tempat makan setelah bersepeda, sampai pemandangan sepanjang perjalanan bisa menjadi pengalaman yang dibagikan kepada orang lain.

Fenomena seperti Strava Art juga menunjukkan bagaimana teknologi digital dapat bertemu dengan budaya bersepeda. Pada 2026, kompetisi yang memanfaatkan rute bersepeda untuk membentuk gambar di aplikasi Strava bahkan menjadi bagian dari kegiatan komunitas sepeda di Indonesia.

Sepeda akhirnya tidak hanya menjadi benda yang digunakan untuk berpindah tempat. Ia juga menjadi medium untuk berekspresi dan menciptakan pengalaman.

Baca juga: Studi ungkap manfaat bersepeda jangka panjang untuk kesehatan lansia

Tren bersepeda semakin luas

Perkembangan dunia sepeda juga tidak lagi hanya berkutat pada olahraga kompetitif.

Dalam forum Mobility & Bike City 2026, Union Cycliste Internationale (UCI) membahas sejumlah isu yang menunjukkan semakin luasnya peran sepeda, mulai dari wisata bersepeda, strategi kota dalam mempromosikan sepeda, keselamatan di jalan, hingga dampak kegiatan bersepeda terhadap komunitas dan ekonomi lokal.

Hal ini menunjukkan bahwa tren bersepeda secara global mulai bersinggungan dengan banyak bidang.

Sepeda bisa menjadi bagian dari olahraga, pariwisata, transportasi, kesehatan, lingkungan, bahkan pengembangan ruang kota.

Di Indonesia, perkembangan serupa juga terlihat dari semakin beragamnya kegiatan komunitas. Bersepeda bisa dilakukan dalam bentuk touring, commuting, rekreasi, kegiatan sosial, hingga sekadar berkeliling menikmati suasana kota.

Mungkin itu sebabnya bersepeda bisa bertahan sebagai gaya hidup. Aktivitas ini tidak memiliki satu cara untuk dinikmati.

Ada yang menyukai sensasi olahraga dan tantangan jarak jauh. Ada yang lebih menikmati perjalanan santai bersama teman. Ada pula yang menggunakan sepeda sebagai pilihan transportasi sehari-hari.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menempatkan berjalan kaki dan bersepeda sebagai bagian dari mobilitas aktif yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Dengan berbagai pilihan tersebut, sepeda akhirnya memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.

Jadi, ketika melihat sekelompok orang mengayuh sepeda bersama di jalanan kota, aktivitas mereka belum tentu hanya soal olahraga. Bisa jadi mereka sedang berolahraga, bertemu teman, menikmati perjalanan, mencari suasana baru, sekaligus menjadi bagian dari komunitas.

Sepeda memang sederhana. Namun, cara orang menggunakannya kini semakin beragam. Dari sekadar dua roda untuk berpindah tempat, sepeda telah berkembang menjadi bagian dari cara sebagian masyarakat menjalani keseharian.

Baca juga: Apakah bersepeda bisa menurunkan berat badan? Ini faktanya

Baca juga: 7 manfaat bersepeda untuk kesehatan, jaga jantung dan berat badan

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.