Bondowoso (ANTARA) - Seorang mahasiswa semester dua, sebut saja namanya Budi, sering kali curhat dengan seniornya semasa SMA. Saat curhat lewat telepon, Budi hampir selalu menangis karena tidak kuat menanggung beban kuliah yang tidak sesuai dengan pilihan jiwanya.
Budi memilih kuliah jurusan bidang sains dan teknologi hanya untuk menebus utang bakti kepada ibunya yang ngotot agar si pemuda yang menyukai pelajaran bidang humaniora, khususnya bahasa asing, itu mengambil jurusan teknik.
Senior Budi sudah kehilangan kata untuk menguatkan mental juniornya. Tempat curhat itu teringat satu lokasi "horor" di kota tempat Budi kuliah. Dia mengingatkan agar Budi tidak melewati lokasi yang dikenal sebagai tempat anak putus asa kemudian memilih mengakhiri hidup dengan paksa.
"Duh. Ampun mas, doakan Budi tidak melakukan perbuatan nekad itu. Meskipun, jujur, sempat terpikir melakukan jalan pintas itu, tapi syukurlah Tuhan sayang sama saya," kata Budi menjawab peringatan dari seniornya.
Budi adalah satu dari sekian anak muda, khususnya mahasiswa dan siswa yang menjalani hidup dengan terpaksa menjalankan sesuatu karena ingin "berbakti" kepada orang tua.
Si senior, akhir-akhir ini penasaran karena Budi tidak lagi curhat mengenai beratnya kuliah. Ketika dihubungi, Budi bercerita bahwa saat ini dia sudah mengurus pengunduran diri dari kampus karena sudah mendaftar sebagai calon mahasiswa baru di satu kampus swasta, dengan jurusan sesuai minatnya.
Budi tergolong beruntung, karena orang tuanya, akhirnya menyadari kekeliruannya dalam mendampingi anak menyusun puzzle hidup di masa depan.
Di kasus lain, tidak sedikit orang tua yang keukeuh dengan pilihan mengarahkan jalan hidup anaknya, sesuai kehendak orang tua.
Kalau pun orang tua mau berkompromi dengan anak, biasanya hanya pindah jurusan, namun harus tetap sesuai pilihan si orang tua, padahal tetap tidak sesuai dengan minat si anak.
Sepintas, pilihan orang tua yang memaksa anaknya memilih jurusan tertentu yang dinilai memiliki masa depan cerah adalah menunaikan tugas mulia orang tua untuk si anak. Padahal, sesungguhnya, pilihan itu hanya untuk memenuhi hasrat atau ego si orang tua yang pada masa muda tidak mampu meraih impian tersebut.
Si orang tua "berutang" pada keinginannya, namun si anak yang dibebani tugas melunasi. Untuk memahami situasi batin anak dengan orang tua yang ingin mewujudkan cita-cita gagalnya lewat si anak, puisi Kahlil Gibran berjudul "Anakmu bukan milikmu", barangkali dapat menjadi bahan perenungan.
Anakmu bukan milikmu
Anak adalah kehidupan,
Mereka sekadar lahir melaluimu tetapi bukan berasal Darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikiranya sendiri
Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
Karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
Bahkan, dalam mimpi sekalipun
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
Menuntut mereka jadi seperti sepertimu,
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan tidak tengelam di masa lampau.
Kaulah busur,
Dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya,
hingga anak panah itu meleset,
jauh serta cepat.
Meliuklah dengan sukacita
dalam rentangan Sang Pemanah,sebab Dia
Mengasihi anak- anak panah yang melesat laksana kilat,
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap
Dalam bahasa anak muda sekarang, tidak jarang orang tua memandang anak sebagai "investasi". Anak dipandang sebagai calon sandaran bagi masa depan, ketika orang tua sudah tidak berdaya, baik secara fisik maupun finansial.
Karena pandangan sebagai investasi itu, maka pandangan orang tua terhadap anak cenderung berputar pada motif menghasilkan, sesuai hasrat ego orang tua.
Padahal, anak lahir ke alam semesta sudah membawa skenario hidup dari Tuhan yang sering kali orang tua tidak sadar dengan garis dan jalan hidup si anak.
Semua orang tua berharap anaknya sukses secara ekonomi adalah sesuatu yang alamiah. Hanya saja, sukses ekonomi yang tidak dibarengi dengan sehatnya jiwa, justru membuat si anak tidak bahagia.
Pada tahap berikutnya, si anak, ketika dewasa juga menjadi orang tua yang sama dengan orang tuanya. Si anak yang sudah dewasa akan memandang anaknya juga sebagai investasi.
Pentingnya komunikasi
Pengalaman dari cerita Budi juga menjadi pelajaran bagi orang tua lain untuk mulai belajar berempati pada jiwa anak. Komunikasi intensif orang tua dengan anak adalah investasi substantif untuk masa depan si anak bertumbuh menuju dewasa.
Bagi orang tua yang anaknya masih kecil, pilihannya bergegas untuk mulai menjalin keakraban. Langkah pertama adalah mulai belajar mendengarkan. Setidak menarik apapun cerita si anak, orang tua harus rela "bersedekah telinga". Buat si anak nyaman menyampaikan sesuatu, lebih-lebih perasaannya.
Jika muncul godaan untuk menghakimi isi cerita si anak, orang tua perlu belajar menahan diri. Menjadi pendengar setia tanpa penghakiman adalah pilihan terbaik, sehingga jiwa si anak masuk dalam "perangkap" persepsi positif bahwa orang tuanya adalah sosok yang lengkap: menjadi orang tua, sekaligus sebagai teman atau sahabat.
Jika anak belum mau atau belum merasa nyaman bercerita, coba pancing dengan pertanyaan bagaimana pengalamannya di sekolah bersama temannya. Atau bagaimana uang jajannya dibelanjakan di sekolah.
Lalu, bagaimana jika si anak telanjur berada pada fase dewasa awal atau remaja, namun si orang tua tidak memiliki kebiasaan dekat dengan anak? Keadaan ini biasanya memerlukan waktu lebih lama dibandingkan dengan membangun kebiasaan itu sejak kecil. Orang tua tentu tidak nyaman jika harus berubah tiba-tiba akrab pada anak. Sebaliknya, anak juga tidak akan langsung nyaman diakrabi.
Puncak dari semua itu adalah penerimaan dan stop membuat pigura masa depan untuk digunakan si anak. Biarkan anak menggunakan pigura masa depannya sendiri sesuai keadaan dan fondasi jiwanya sendiri. Jadilah busur yang selalu rela anak panahnya melesat untuk menemukan titik koordinat takdirnya.
Pewarta: Masuki M. Astro
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.