China dan Taiwan bersiap hadapi Topan Bavi

2026/07/10

China dan Taiwan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi Topan Bavi yang diperkirakan menjadi salah satu badai tropis paling kuat dalam beberapa tahun terakhir. Ancaman tersebut datang ketika sebagian wilayah China masih berupaya memulihkan dampak Topan Maysak yang menewaskan sedikitnya 39 orang.

Dilansir dari Reuters, Jumat (10/7), Topan Bavi bergerak di tenggara Taiwan dengan kecepatan angin mendekati 200 kilometer per jam. Badai itu diperkirakan melintas di utara Taiwan sebelum mendarat di Provinsi Fujian, China timur, pada Sabtu (11/7) malam.

Menghadapi ancaman tersebut, nelayan di Taiwan membawa kapal-kapal mereka berlindung di pelabuhan. Warga juga mengantre untuk mengambil karung pasir sebagai antisipasi banjir, sementara para petani mempercepat panen agar hasil pertanian tidak rusak diterjang badai.

Otoritas Taiwan memperingatkan Bavi berpotensi membawa curah hujan hingga satu meter di kawasan pegunungan utara Taipei. Kementerian Pertahanan Taiwan juga menyiagakan sekitar 29.000 personel militer untuk membantu proses evakuasi dan penanganan darurat apabila diperlukan.

Prakirawan Central Weather Administration Taiwan, Jason Chang, mengatakan Bavi diperkirakan menjadi badai terbesar berdasarkan ukurannya yang menghantam Taiwan sejak 1987. Menurutnya, badai dengan skala seperti Bavi tergolong jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain Selat Taiwan, tim penyelamat di wilayah Guangxi, China, masih berjibaku dengan pencarian korban dan penyintas Topan Maysak. Hingga kini sedikitnya 39 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara sembilan orang lainnya masih dinyatakan hilang akibat topan tersebut.

Sisa dampak Maysak juga memicu banjir di sejumlah wilayah China. Warga di daerah terdampak masih berupaya membersihkan rumah dan lingkungan mereka, sementara pemerintah terus melakukan pencarian korban serta menyalurkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak.

Para ahli cuaca mengingatkan Bavi berpotensi menimbulkan kerusakan besar ketika mendekati wilayah pesisir Taiwan dan China timur. Para ahli juga menilai rentetan badai yang melanda kawasan Asia bukan sekadar fenomena cuaca biasa. Perubahan iklim global disebut meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, sementara kemunculan fenomena El Nino tahun ini diperkirakan ikut menghangatkan suhu permukaan laut. 

Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang lebih mendukung terbentuknya topan dengan kekuatan yang lebih besar dan berpotensi menimbulkan dampak yang lebih merusak.