REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ingin budaya tidak berhenti sebagai warisan yang dijaga, tetapi berkembang menjadi kekuatan ekonomi sekaligus sarana memperkenalkan kota ke dunia. Pengalaman Korea Selatan membawa musik, film, kuliner, hingga fesyennya mendunia menjadi salah satu hal yang ingin dipelajari Jakarta.
Hal itu mengemuka dalam rangkaian kunjungan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno ke Korea Selatan. Rano menghadiri Festival Indonesia 2026 di Mulbit Stage, Yeouido Hangang Park, Seoul, Ahad (4/10/2026), sekaligus menjajaki penguatan kolaborasi Jakarta dan Seoul di sektor kebudayaan, ekonomi kreatif, hingga perfilman.
Festival yang diselenggarakan KBRI Seoul itu mempertemukan masyarakat Indonesia dan Korea Selatan melalui pertunjukan seni, kuliner, musik, olahraga, serta berbagai produk kreatif. Kehadiran Jakarta juga ditandai penampilan kesenian dan pengenalan kota kepada pengunjung.
“Festival Indonesia bukan sekadar perayaan budaya. Ini adalah ruang perjumpaan. Melalui seni, kuliner, kreativitas, dan budaya, masyarakat Indonesia dan Korea Selatan bisa semakin saling mengenal, berbagi inspirasi, dan membangun persahabatan yang lebih kuat,” kata Rano.
Bagi Jakarta, kunjungan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi budaya. Hubungan sister city Jakarta dan Seoul yang telah terjalin sejak 1984 ingin diarahkan pada kolaborasi yang lebih konkret.
“Jakarta dan Seoul memiliki banyak ruang untuk tumbuh bersama. Hubungan keduanya harus kita isi dengan kerja sama yang konkret. Mulai dari kebudayaan, industri kreatif, perfilman, pengembangan talenta muda, sampai pertukaran pengalaman dalam membangun kota yang mampu berbicara di tingkat global,” ujar Rano.
Belajar dari Gelombang Budaya Korea
Rano menilai keberhasilan Korea Selatan membawa film, musik, drama, kuliner, dan fesyen ke pasar global memperlihatkan bahwa budaya dapat tumbuh menjadi sebuah ekosistem ekonomi.
Keberhasilan itu, menurut dia, tidak terjadi hanya karena karya budaya yang menarik. Ada dukungan terhadap kreator, pembangunan industri, akses pasar, serta promosi yang dilakukan secara konsisten.
“Kita melihat bagaimana Korea Selatan mampu membawa kebudayaannya menembus batas-batas negara. Yang menarik untuk kita pelajari bukan sekadar hasil akhirnya, tetapi strategi di belakangnya. Bagaimana budaya diberi ruang, kreator diperkuat, industri dibangun, dan semuanya kemudian diperkenalkan kepada dunia,” katanya.
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan arah pembangunan Jakarta menuju kota global. Pemprov DKI ingin pencapaian status kota global tidak menghilangkan akar budaya Betawi maupun keragaman budaya yang membentuk Jakarta.
Sebaliknya, identitas budaya itu ingin dijadikan modal untuk memperkuat ekonomi kreatif sekaligus membangun daya tarik kota di tingkat internasional.
Rano menilai Jakarta memiliki keuntungan karena sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai etnis, tradisi, dan kebudayaan. Tantangannya adalah mengubah kekayaan tersebut menjadi ekosistem yang memberi ruang bagi pelaku kreatif untuk berkembang.
Dari Seoul ke Industri Film
Pendekatan serupa mulai diterapkan Pemprov DKI di sektor perfilman. Pada Juni lalu, Jakarta resmi meluncurkan Jakarta Film Commission (JFC) sebagai layanan untuk memberikan informasi, koordinasi, dan fasilitasi bagi produksi film serta audiovisual.
Melalui JFC, Pemprov ingin mempermudah proses produksi sekaligus mendorong lebih banyak aktivitas industri film berlangsung di Jakarta.
Langkah tersebut dilanjutkan melalui kunjungan Rano ke Busan dalam rangkaian Busan International Film Festival 2026. Jakarta membawa JFC untuk diperkenalkan kepada jejaring sineas, produser, investor, festival, serta pelaku industri film internasional.
Hubungan dengan Busan sendiri bukan dimulai dari nol. Pada April lalu, delegasi Busan Film Commission telah datang ke Jakarta untuk membahas penguatan ekosistem perfilman dan peluang kerja sama dengan Jakarta Film Commission.
Pertukaran pengalaman itu menjadi penting karena Busan telah lebih dulu membangun industri film yang ditopang festival internasional, film commission, pengembangan talenta, dan jaringan produksi.
Bagi Pemprov DKI, model tersebut dapat menjadi pembelajaran dalam membangun Jakarta sebagai Kota Sinema sekaligus memperkuat subsektor ekonomi kreatif.
Jakarta Film Commission saat ini tidak hanya diarahkan membantu perizinan produksi, tetapi juga membuka akses lokasi syuting, mempertemukan pelaku industri dengan ekosistem pendukung, serta menarik lebih banyak produksi nasional maupun internasional ke Jakarta.
Rano berharap jejaring internasional yang dibangun melalui Busan dapat memperbesar peluang kolaborasi tersebut.
Di tengah perjalanan menuju usia 500 tahun, ia ingin Jakarta tidak hanya dikenal karena sejarah panjangnya, tetapi juga sebagai kota yang memberi ruang bagi karya dan industri kreatif untuk berkembang.
Karena itu, Rano turut mengundang masyarakat Korea Selatan berkunjung ke Jakarta untuk mengenal lebih dekat budaya dan kreativitas masyarakatnya menjelang perayaan lima abad Jakarta.
Buka Peluang Pendidikan
Kerja sama Jakarta dan Seoul juga diarahkan ke pengembangan sumber daya manusia. Dalam pembicaraan dengan Pemerintah Metropolitan Seoul, Rano menyampaikan rencana Pemprov DKI mengembangkan skema beasiswa pendidikan luar negeri mulai 2027.
Salah satu peluang yang dijajaki adalah membuka akses bagi mahasiswa Jakarta untuk menempuh pendidikan di universitas-universitas di Seoul dan Korea Selatan.
“Kami akan dengan senang hati menjajaki peluang untuk menghubungkan program ini dengan universitas-universitas terkemuka di Seoul,” kata Rano.
Menurut dia, pengalaman belajar di Korea Selatan juga memberi kesempatan bagi mahasiswa Jakarta untuk melihat langsung bagaimana teknologi, industri kreatif, inovasi, dan budaya dikembangkan dalam satu ekosistem.
Kerja sama tersebut diharapkan membuat hubungan Jakarta dan Seoul tidak hanya berjalan antarpemerintah, tetapi juga melibatkan mahasiswa, peneliti, komunitas kreatif, seniman, dan pelaku usaha kedua kota.