Sawahlunto (ANTARA) - Siang itu kabut asap tebal menyelimuti kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Sudah sepekan lebih tidak turun hujan. Cuaca terik dan suhu panasnya memantul ke permukaan tanah kota batu bara tersebut.
Meskipun demikian, asap dan cuaca panas tidak menyurutkan semangat belasan mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Negeri Padang (UNP) untuk tetap belajar ke kedalaman bumi. Mereka datang pada Jumat (11/9/2026) ke lubang tambang dalam batu bara Sawahluwung milik PT Bukit Asam (Persero) Tbk menjelang siang.


Seorang mahasiswa, Jamie, memimpin rombongan itu yang berjumlah sekitar 15 orang. Mereka membawa alat-alat ukur, seperti meteran dan kompas geologi. Mereka melakukan penelitian dan pendataan untuk mengikuti kompetisi Mining Fair 2026 digelar oleh kampus mereka pada 11–15 Oktober 2026.
Kompetisi mahasiswa pertambangan antar kampus tingkat nasional itu menghadirkan berbagai cabang uji kemampuan teknis di bidang pertambangan.


Dari 15 orang tersebut, mereka dibagi tiga kelompok. Dua kelompok masuk ke dalam tambang, sedangkan satu kelompok melakukan pendataan di luar tambang.
Pintu masuk bekas lubang tambang batu bara Sawahluwung berada pada ketinggian 214 meter di atas permukaaan laut. Namun saat masuk ke dalam, elevasinya turus menurun sampai 57 meter.


Di dalam terowongan ini terdapat sisa infrastruktur penambangan batu bara historis pada lapisan Seam A (lapisan endapan bahan galian atau mineral) yang meliputi tiga galeri buntu, yaitu Galeri satu, dua, dan tiga. Pada tiga galeri inilah para mahasiswa melakukan pendataan.
Seketika mereka menyoroti dinding pada galeri dua di mana terdapat batu bara berkilauan. Kualitas batu bara di Sawahlunto memang memiliki kalori tinggi sehingga termasuk bituminous coal (Batu bara Bitumen). Kualitas batu bara tersebut sangat tinggi sehingga bisa memenuhi syarat metalurgi dan pembangkit listrik.


Rombongan mahasiswa mendata di dalam tambang bawah tanah didampingi petugas PT Bukit Asam Tbk Unit Pertambangan Ombilin (UPO) Sawahlunto, Syamsul Hamidi. Kegiatan pemeliharaan shift pertama hari itu baru saja selesai.
Meskipun operasional produksi batubara telah dihentikan sepenuhnya sejak penetapan kawasan ini sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2019, stabilitas bukaan terowongan tetap harus dipertahankan secara berkelanjutan untuk kebutuhan edukasi dan riset geoteknik.


Lubang tambang ini menjadi satu-satunya tambang batu bara bawah tanah di Indonesia yang tidak lagi beroperasi untuk penambangan, melainkan menjadi objek studi.
Area tersebut menjadi objek edukasi tambang karena memiliki daya tarik unik bagi siswa atau mahasiswa yang tertarik pada sejarah industri dan teknologi pertambangan pada masa itu, sekaligus memberikan wawasan tentang warisan budaya tambang.


Lubang tambang dalam Sawahluwung baru dibuka pada 1985 ketika dimulainya mekanisasi dalam teknologi pertambangan dan berhenti berproduksi pada tahun 2016.
Saat ini cadangan batu bara di Ombilin yang masuk dalam aset PT Bukit Asam adalah sebesar 102 juta ton. Meskipun tidak berproduksi lagi, perusahaan itu telah berkomitmen untuk mendukung penuh upaya pelestarian Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) sebagai situs Warisan Dunia UNESCO, salah satunya dengan menjadi lubang pendidikan.

Selain penelitian, mahasiswa pertambangan juga rutin menggelar kuliah lapangan ke dalam tambang. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa, sehingga mampu mengintegrasikan teori yang diperoleh di ruang kuliah dengan praktik di lapangan.

Materi kegiatan mencakup berbagai topik penting seperti teknik pemboran dan penyanggaan tambang bawah tanah, survey pertambangan bawah tanah dan tambang terbuka, ventilasi tambang, face mapping dan analisis geoteknik, blasting, hidrogeologi dan penyaliran tambang, hingga produktivitas alat berat.

Sebagai perguruan tinggi terfavorit di Sumatera Barat, UNP menunjukkan komitmennya untuk mencetak lulusan Teknik Pertambangan yang siap kerja dan memiliki kompetensi teknis sesuai kebutuhan industri.
Kebutuhan negara terhadap mahasiswa dan lulusan Teknik Pertambangan di Indonesia saat ini berada pada tingkat yang sangat krusial dan tinggi, terutama dipicu oleh agenda besar hilirisasi industri dan transisi energi.

Menjelang sore, Jamie dan teman-temannya keluar dari dalam tambang. Kendati belum cukup, ia bertekad akan kembali masuk ke dalam Sawahluwung untuk menambah data dan referensinya tentang tambang batu bara bawah tanah. (*)
