Jakarta -
Efek minum kopi bisa berbeda pada setiap orang. Ahli mengungkap penyebab kafein bikin sebagian orang melek, tapi sebagian lainnya tetap mudah tidur.
Minum kopi kerap jadi andalan untuk mengusir kantuk dan menjaga fokus saat beraktivitas. Namun, efeknya ternyata tidak sama pada setiap orang.
Ada yang langsung merasa melek setelah minum kopi, tetapi ada juga yang tetap bisa tidur nyenyak meski menyeruputnya pada malam hari. Perbedaan ini ternyata dipengaruhi sejumlah faktor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para ahli menjelaskan faktor yang memengaruhi respons tubuh terhadap kafein. Dikutip dari BBC (17/9) berikut penjelasannya.
1. Kafein Menghambat Rasa Kantuk
Kafein Menghambat Rasa Kantuk. Foto: Getty Images/lielos
Kafein merupakan zat psikoaktif yang banyak dikonsumsi di dunia melalui kopi, teh, minuman bersoda, minuman energi, hingga cokelat. Zat ini membantu meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi serta menunda rasa lelah.
Kafein tidak memberikan energi tambahan bagi tubuh, tetapi membantu menyamarkan rasa kantuk. Caranya dengan menghambat kerja adenosin, zat kimia di otak yang menumpuk sepanjang hari dan memicu rasa kantuk.
Karena mekanisme tersebut, seseorang bisa merasa lebih segar setelah minum kopi meski tubuhnya membutuhkan istirahat. Namun, seberapa kuat efeknya dapat berbeda pada setiap orang.
2. Faktor Genetik Memengaruhi Efek Kafein
Setelah diminum, kafein diserap ke aliran darah dan mencapai otak, lalu diuraikan oleh enzim di hati sebelum dikeluarkan melalui urine. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 6 hingga 20 jam, bergantung pada kondisi setiap orang.
Dr Marilyn Cornelis, profesor madya bidang nutrisi di Northwestern University, menjelaskan bahwa gen CYP1A2 berperan dalam menentukan kecepatan hati memproses kafein.
"Kita bisa minum secangkir kopi pertama dan mungkin tidak merasakan efeknya," ujar Dr Marilyn Cornelis.
Namun, menurutnya, kafein masih bisa bertahan beberapa jam kemudian dan efeknya dapat bertambah setelah seseorang minum kopi lagi.
3. Rokok, Obat, dan Kehamilan Memengaruhi Kafein
Ilustrasi kopi hitam. Foto: Getty Images/iStockphoto
Kebiasaan merokok dapat mempercepat penguraian kafein oleh hati hingga sekitar 65%. Karena itu, orang yang berhenti merokok bisa merasakan efek kopi lebih kuat daripada biasanya.
Sebaliknya, beberapa antibiotik, pil kontrasepsi, dan obat resep dapat memperlambat penguraian kafein. Kondisi ini membuat kafein bertahan lebih lama sehingga efeknya berpotensi terasa lebih kuat.
Kehamilan juga dapat memperlambat pemrosesan kafein akibat perubahan hormon yang memengaruhi enzim hati. Karena itu, ibu hamil dianjurkan membatasi konsumsi kafein agar tidak berlebihan.
4. Kebiasaan Minum Kopi Membentuk Toleransi
Orang yang rutin minum kopi dapat mengalami penurunan sensitivitas terhadap kafein karena tubuh beradaptasi dengan zat tersebut.
Akibatnya, mereka mungkin tidak lagi merasakan efek kopi sekuat saat pertama kali mengonsumsinya.
Toleransi ini dapat berubah ketika seseorang berhenti minum kopi selama beberapa minggu. Adaptasi di otak mulai berbalik sehingga kafein bisa terasa lebih kuat saat dikonsumsi kembali.
Efeknya dapat berupa sensasi lebih berenergi, gelisah, atau jantung berdebar. Karena itu, respons tubuh setelah minum kopi tidak selalu sama dan bisa berubah seiring kebiasaan konsumsi.
5. Kapan Sebaiknya Berhenti Minum Kopi?
Ilustrasi minum kopi hitam Foto: Getty Images/Deagreez
Peneliti tidur umumnya menyarankan untuk menghindari kafein setidaknya enam jam sebelum tidur.
Dr Lindsay Browning, psikolog sekaligus pakar tidur, menyarankan orang yang tidur pukul 22.00 untuk mempertimbangkan berhenti mengonsumsi kafein setelah pukul 14.00.
"Saya menyarankan orang untuk mempertimbangkan menghindari kafein setelah sekitar pukul 14.00 jika mereka akan tidur sekitar pukul 22.00," ujar Dr Lindsay Browning.
Ia juga menekankan bahwa aturan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
NHS menyarankan ibu hamil membatasi asupan kafein maksimal 200 mg per hari karena kaitannya dengan risiko berat lahir rendah dan komplikasi kehamilan.
Bagi orang dewasa lainnya, konsumsi secukupnya dan memperhatikan respons tubuh menjadi langkah penting.
Halaman 2 dari 2
Simak Video "Video: Saat Kopi Jadi Tren, Masih Adakah Masa Depan Teh Jawa Barat?"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/adr)