Bayi Lahir dengan Wajah Kena Kotoran? Ternyata Ada Manfaatnya untuk Kesehatan

2026/10/10

Keluar kotoran saat melahirkan pervaginam adalah hal yang biasa terjadi. Tapi kalau kotorannya kena wajah bayi? Ternyata bisa membawa manfaat bagi kesehatan bayi, Bunda. Bikin heran kan?

Ya, jika bayi lahir secara pervaginam dengan posisi kepala di bawah dan wajah menghadap rektum ibu, tekanan saat proses kelahiran dapat menyebabkan keluarnya tinja. Dengan kata lain, bayi bisa lahir dengan kotoran ibunya menempel di wajah mereka.

Bagaimana bisa bermanfaat? Mikroba yang diperoleh dari ibu selama proses kelahiran, terutama yang berasal dari kotoran ibu, bisa membantu membentuk sistem kekebalan tubuh dan saluran pencernaan bayi yang sedang berkembang, sekaligus menjadi landasan bagi kesehatan jangka panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Setelah melewati beberapa hari pertama kehidupan, setiap orang dari kita akan mengembangkan mikrobioma usus. Para ilmuwan kini meyakini bahwa komunitas bakteri, jamur, dan virus ini memainkan peran vital bagi kesehatan kita. Pada orang dewasa, mikrobioma ini membantu mengurai serat yang sulit dicerna dan menyediakan enzim yang diperlukan untuk mensintesis vitamin tertentu.

Keberadaan mereka saja sudah melindungi kita dari patogen berbahaya, bahkan ada pula yang melepaskan antibiotik alami untuk membasmi mikroba asing yang menyerang.

"Profil mikroba yang nyata di dalam saluran pencernaan baru terbentuk sekitar tiga atau empat hari setelah kelahiran. Jadi, dibutuhkan waktu beberapa hari bagi mikroba untuk mulai melakukan kolonisasi," ujar Nigel Field, profesor epidemiologi penyakit menular di University College London (UCL) yang memimpin proyek Baby Biome, dikutip dari BBC.

"Pada dasarnya, kita terlahir dalam kondisi steril. Jadi, ini adalah momen yang sangat luar biasa bagi sistem kekebalan tubuh, karena hingga saat itu, seluruh permukaan tubuh belum pernah bersentuhan dengan mikroba," ungkap Field.

Manfaat memiliki mikrobioma usus yang sehat bahkan lebih luas lagi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mikrobioma usus yang berfungsi dengan baik dapat memberikan perlindungan terhadap kondisi seperti kecemasan, depresi, dan bahkan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, Bunda.

"Mikroba pertama yang mengolonisasi saluran pencernaan bayi ibarat arsitek bagi sistem kekebalan tubuh," kata Archita Mishra, dosen senior di University of Sydney, Australia, yang meneliti peran mikrobioma dalam perkembangan sistem kekebalan tubuh di awal kehidupan.

"Hal ini membantu 'melatih' tubuh untuk membedakan kawan dan lawan, mengajarkan sel-sel kekebalan tubuh cara menoleransi antigen makanan [dan] mikroba yang tidak berbahaya, serta membangun pertahanan terhadap patogen."

Menurut Mishra, komunitas bakteri yang terbentuk dalam enam hingga 12 bulan pertama berperan penting dalam menentukan risiko alergi, seberapa baik respons anak terhadap vaksin, dan seberapa baik fungsi penghalang usus, lapisan yang memisahkan isi usus dari bagian tubuh lainnya.

"Seribu hari pertama kehidupan tampaknya menjadi masa krusial di mana mikrobioma usus meninggalkan jejak yang bertahan selama beberapa dekade," ujar Mishra.

Ada peristiwa mikrobial saat melahirkan secara pervaginam

Kelahiran pervaginam adalah momen ketika bayi terpapar dan dikolonisasi oleh bakteri hidup. Saat melewati jalan lahir, tubuh bayi terlapisi oleh bakteri vagina sang ibu.

Dulu, kita meyakini bahwa bakteri dominan di jalan lahir Lactobacillus adalah mikroba pertama dan terpenting yang mengawali pembentukan mikrobioma usus bayi. Lactobacillus mudah dikembangbiakkan di laboratorium, telah banyak diteliti, dan dikenal luas sebagai bakteri "baik".

Namun, meskipun bayi terpapar Lactobacillus saat lahir, bakteri ini tidak bertahan lama di dalam usus mereka. 
Sebaliknya, mikroba yang menjadi fondasi mikrobioma usus bayi baru lahir sebagian besar berasal dari usus ibu, bukan vaginanya.

Hal ini memunculkan pertanyaan yang jelas: bagaimana bayi mendapatkan bakteri usus ibunya? Jawabannya terletak pada mekanisme proses kelahiran itu sendiri.

Dikutip dari laman University of New South Wales, Australia, posisi persalinan ideal dalam kelahiran normal (pervaginam) dikenal sebagai occiput anterior. Pada posisi ini, kepala bayi menghadap ke bawah ke arah punggung ibu, dengan dagu menempel di dada. Akibatnya, kepala bayi menekan rektum ibu saat bergerak turun, sehingga mendorong keluarnya feses tepat saat bayi lahir.

Fakta yang mungkin terdengar janggal adalah hal pertama yang dilihat bayi saat memasuki dunia ini adalah isi usus ibunya. Jauh dari sekadar kebetulan, hal ini tampaknya merupakan mekanisme evolusi yang memastikan bayi menerima mikroba yang paling tepat untuk mengkolonisasi usus mereka.

Namun, perlu ditegaskan bahwa jika dengan sengaja mengoleskan tinja ke wajah bayi Anda adalah tindakan berbahaya dan dapat menyebabkan infeksi yang mengancam jiwa. Hal ini dikarenakan jumlah dan sumber bakteri, serta cara bakteri tersebut masuk ke tubuh, tidak sama dengan proses yang terjadi secara alami. Selain itu, sistem kekebalan tubuh bayi baru lahir yang belum matang membuat mereka sangat rentan terhadap infeksi.

Bagaimana dengan bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar? Bayi yang lahir melalui operasi caesar atau terpapar antibiotik selama masa kehamilan memiliki profil mikrobioma awal yang berbeda, serta mungkin menghadapi risiko lebih tinggi terhadap kondisi kesehatan tertentu pada masa kanak-kanak, seperti asma dan dermatitis atopik.

Intervensi medis ini sangat penting saat dibutuhkan dan tidak boleh dihindari hanya karena kekhawatiran akan gangguan pada mikrobioma. Kesehatan dan keselamatan ibu serta bayi senantiasa menjadi prioritas utama.

Pada akhirnya, setiap kelahiran atau persalinan itu unik. Yang jelas, bukan berarti kita boleh mengoleskan kotoran ke wajah bayi yang baru lahir demi meningkatkan paparan mereka terhadap mikroba. Tindakan tersebut berbahaya dan sama sekali tidak dianjurkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)