Bawaslu nilai penerapan

2026/09/03

Bawaslu nilai penerapan "e-voting" perlu dikaji lebih mendalam

Kamis, 3 September 2026 21:14 WIB

Image Print

Anggota Bawaslu RI Lolly Suhenty berbicara dalam acara “Refleksi Kepemimpinan Bawaslu Jelang 5 Tahun” di Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026). ANTARA/Nadia Putri Rahmani

Pangandaran (ANTARA) - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI menilai penerapan sistem pemungutan suara secara digital atau e-voting dalam pemilihan umum (Pemilu) 2029 perlu dikaji lebih mendalam.

Anggota Bawaslu RI Lolly Suhenty saat ditemui seusai acara “Refleksi Kepemimpinan Bawaslu Jelang 5 Tahun” di Pangandaran, Jawa Barat, Kamis, memandang perlu adanya kajian mendalam secara utuh dan tuntas terhadap e-voting sebelum sistem tersebut diimplementasikan secara luas.

E-voting ini kan sesuatu yang dia harus disiapkan secara tuntas sehingga dalam konteks ini harus ada kajiannya yang utuh. Misalnya apakah kalau pun diberlakukan nanti, dalam diskusinya itu dilakukannya gradual dulu, tidak semua, karena melihat geografis Indonesia,” katanya.

Selain itu, menurutnya, kajian juga harus dilaksanakan dengan menggunakan naskah akademik yang kuat agar dapat menentukan optimal atau tidaknya sistem tersebut.

“Karena maunya kita itu kan kalau pemilu kita itu ada keterlibatan teknologi, maka dia harus memudahkan, bukan malah menyusahkan. Jangan sampai itu terjadi. Maka kajiannya harus tuntas dulu. Bawaslu dalam konteks ini pun sedang menyiapkan kajian kita terhadap isu-isu ini,” katanya.

Sebelumnya, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Betty Epsilon Idroos mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan prototipe mesin e-voting yang dikembangkan sendiri oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) KPU RI.

Selain itu, KPU juga telah mempelajari penerapan e-voting pada berbagai negara, seperti Estonia, Brasil, dan Filipina.

Meski demikian, ia menyebut bahwa masih ada tantangan dalam implementasi e-voting, mulai dari isu transparansi yang dapat memengaruhi kepercayaan publik, risiko serangan siber, hingga akses internet di Indonesia yang belum merata.

Pewarta : Nadia Putri Rahmani
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026