Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menegaskan program bantuan pangan dan penyaluran ternak untuk masyarakat di pedalaman Papua tidak akan terhenti, meski dibayang-bayangi ancaman kekerasan. Sikap tegas ini menyusul insiden penembakan yang menewaskan tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya saat bertugas di Papua Pegunungan.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menekankan bahwa para petugas di lapangan hadir untuk membantu pemenuhan gizi masyarakat dan sama sekali bukan ancaman. Karena itu, ia meminta Satgas Operasi Damai Cartenz beserta jajaran TNI-Polri mengusut tuntas para pelaku serta memberikan jaminan keamanan ekstra bagi seluruh petugas pertanian di wilayah konflik.
"Program bantuan pangan dan ternak untuk masyarakat Papua tidak boleh berhenti karena ancaman kekerasan. Negara harus hadir lebih kuat, melindungi setiap pahlawan pangan yang bertaruh nyawa demi menjamin kecukupan pangan rakyat Papua," ujar Amran melalui keterangan resmi, Kamis (10/9/2026).
Selain memastikan keberlanjutan distribusi bantuan pangan di wilayah Papua Pegunungan tanpa hambatan, pemerintah juga berkomitmen memberikan dukungan penuh kepada keluarga korban yang ditinggalkan.
"Kami sangat berduka mendengar kabar ini. Semoga aparat keamanan dapat segera mengungkap kasus ini dan memastikan tidak terulang kembali. Kita ingin pembangunan pertanian di Papua kuat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," tutur Amran.
Amran juga menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya para petugas lapangan tersebut. Ia menyebut para korban sebagai pahlawan pangan yang mendedikasikan hidupnya demi misi kemanusiaan.
"Atas nama Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, dan pribadi, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Mereka adalah pahlawan pangan yang gugur dalam tugas mulia, membawa bantuan ternak untuk saudara-saudara kita di pedalaman Papua. Mereka semestinya aman selama menjalankan tugas kemanusiaan itu," katanya.