REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT – Sampah organik yang selama ini berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat diolah menjadi pakan magot untuk budi daya unggas sekaligus menghasilkan nilai ekonomi. Konsep tersebut dikembangkan PT Bank Mandiri Taspen bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui fasilitas budi daya unggas terpadu dan pengelolaan sampah organik menggunakan magot atau larva black soldier fly (BSF) di Bandung Barat, Jawa Barat.
Melalui model tersebut, sampah organik menjadi bahan makanan bagi magot, kemudian magot dimanfaatkan sebagai pakan ayam. Ayam selanjutnya menghasilkan telur yang dapat dikonsumsi, dijual, atau dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan sosial masyarakat.
Direktur Utama PT Bank Mandiri Taspen Panji Irawan mengatakan, model tersebut dapat menjadi peluang aktivitas produktif bagi pensiunan sekaligus membantu masyarakat mengelola sampah organik di lingkungan sekitar.
“Jadi kami melihat use case dari Doktor Linus bisa di-copy di mana-mana. Para pensiunan bisa mengisi hari-hari mereka bersama dengan warga agar sampah organik menjadi sumber makanan bagi magot, dan magot bisa dimakan oleh ayam, lalu ayamnya bertelur. Sehingga, muncullah circular economy dan para pensiunan sebagai senior citizen (lansia) memiliki penghasilan,” kata Panji usai Seremoni Program CSR Bank Mandiri Taspen melalui Fasilitas Budidaya Unggas Terpadu dan Pengelolaan Sampah Organik melalui Magot BSF (black soldier fly) di Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (18/8/2026).
Panji mengatakan, fasilitas tersebut dapat menjadi model percontohan yang berpotensi diterapkan di berbagai daerah. Bank Mandiri Taspen juga siap memberikan dukungan pembiayaan bagi pensiunan yang ingin mengembangkan usaha budi daya unggas dan magot.
“Jika ini berhasil, bisa disebarluaskan ke mana-mana. Kita mau lihat modelnya, kita mau lihat use case-nya. Ini bisa menjadi salah satu sumber kegiatan bagi para senior citizen,” ujarnya.
Saat ini sekitar 12 persen penduduk Indonesia merupakan senior citizens. Sementara jumlah pensiunan yang menjadi nasabah Bank Mandiri Taspen mencapai sekitar 670 ribu orang di seluruh Indonesia.
Menurut Panji, pengembangan model ekonomi sirkular membutuhkan kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan lembaga keuangan. ITB berperan dalam teknologi dan inovasi, masyarakat menjadi pelaku sekaligus pengelola, sedangkan Bank Mandiri Taspen memberikan dukungan pembiayaan.
“Ada teknologi dan inovasi yang datang dari para ahli ITB. Ada para pelakunya yang datang dari masyarakat, antara lain nasabah kami. Dan kami sebagai bankir mendukung penuh mereka secara berkelanjutan. Ini penting sekali dalam satu ekosistem, kita melihatnya,” papar Panji.
Ia mencontohkan dukungan Bank Mandiri Taspen berupa pembiayaan sekitar Rp45 juta bagi pensiunan yang ingin membuka usaha laundry kiloan. Menurut Panji, kebutuhan modal untuk fasilitas budi daya unggas dan magot berada pada kisaran yang relatif sama.
“Untuk fasilitas (budidaya unggas dan magot) seperti ini, angka segitu masuk, bahkan bisa lebih rendah. Ada ahlinya yang bekerja sama dengan kami. Ada mentornya, coach-nya dan ada use case-nya yang bisa dijadikan percontohan,” tuturnya.
Penggagas apartemen magot dari ITB, Dr. Linus Ampang Pasasa, M.S., mengatakan teknologi tersebut mampu mengurai sampah organik dalam waktu sekitar dua hari. Teknologi yang digunakan relatif sederhana dan dapat diterapkan dengan biaya yang tidak terlalu besar.
“Satu unit apartemen magot membutuhkan biaya sekitar Rp45 juta dan dapat digunakan untuk memelihara hingga 100 ekor ayam dengan dimensi lahan sesempit 1x6 meter. Namun, jumlah ayam dalam satu unit saat ini baru sekitar 40 ekor lantaran pasokan sampah organik yang tersedia masih terbatas. Kalau jumlah ayam terlalu banyak sementara sampahnya sedikit, tentu akan kekurangan makanan,” ujar Linus.
Linus mengatakan, kapasitas pengolahan sampah dapat mencapai sekitar 250 kilogram per hari, bergantung pada jumlah unit dan pasokan sampah. Bahan baku tersebut dapat berasal dari rumah tangga hingga hotel, restoran, dan kafe (HOREKA).
Sistem tersebut menghasilkan magot dan telur ayam sebagai produk bernilai ekonomi. Magot menjadi pakan ayam, sedangkan telur dapat dijual untuk membiayai operasional kelompok pengelola atau dimanfaatkan untuk kebutuhan sosial masyarakat.
“Telurnya mau dijual untuk biaya yang mengurus atau dibagi-bagi untuk penanganan stunting melalui puskesmas dan sebagainya. Tinggal bagaimana manajemennya,” papar Linus.
Direktur Bisnis Bank Mandiri Taspen Mahrauza Purnaditya mengatakan, program CSR perusahaan kini lebih difokuskan pada sektor lingkungan dengan pengembangan bisnis sebagai efek ikutannya. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah timbunan sampah, dengan sekitar 60 persen sampah di TPA merupakan sampah organik.
“Kebetulan memang ada program yang berkaitan dengan permasalahan lingkungan, yaitu timbunan sampah. Dan ternyata TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) menghasilkan 60%-nya itu sampah organik,” ucapnya.
Mahrauza mengatakan, program budi daya ayam sebelumnya telah berjalan, tetapi kini dipadukan dengan pengelolaan sampah organik melalui magot sehingga membentuk sistem terpadu. Hasil panen telur dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar atau dikembangkan menjadi usaha individu.
“Dan ikutannya, mulai dari panen telur, minimal untuk kawasan sekitar terpenuhi, ataupun nanti memang model ini mau dilakukan secara pribadi oleh individu-individu, kan bisa juga,” katanya.
Ia mengatakan, program tersebut merupakan pengembangan dari upaya Bank Mandiri Taspen mempersiapkan pensiunan agar tetap memiliki aktivitas produktif. Pada masa prapensiun, bank memperkenalkan program Mantap Sejahtera, antara lain Warung Mantap Sejahtera, hidroponik, dan laundry.