Baitul Wakaf dukung ketahanan pangan lewat Program Produktif Pisang
Kamis, 30 Juli 2026 22:55 WIB
Perwakilan Baitul Wakaf bersama Laznas BMH, DPP Hidayatullah, DPW Hidayatullah DIY-Jawa Tengah Bagian Selatan, dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) mengikuti Seminar Wakaf Produktif 2026 di Yogyakarta, Rabu (29/7/2026). ANTARA/HO-Baitul Wakaf
Yogyakarta (ANTARA) - Baitul Wakaf bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH), Hidayatullah, dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) akan melaksanakan program Wakaf Produktif Pisang Cavendish sebagai upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Direktur Baitul Wakaf Tian Gusti Lasepa, di Yogyakarta, Kamis, mengatakan program tersebut juga menjadi salah satu model pengembangan aset wakaf produktif.
"Program perdana akan dikembangkan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai daerah melalui kolaborasi antarlembaga," katanya.
Menurutnya, program tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan mengingat Indonesia memiliki aset wakaf yang melimpah, namun masih banyak yang belum dikelola secara produktif.
"Kami ingin mengubah aset wakaf yang selama ini belum optimal menjadi sumber pangan, penguatan ekonomi, dan manfaat berkelanjutan bagi umat," ujarnya.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang memahami wakaf hanya sebatas fungsi 3M, yakni masjid, makam, dan madrasah.
Padahal, lanjut dia, wakaf dapat dikembangkan menjadi instrumen ekonomi produktif yang mampu memberikan manfaat jangka panjang.
"Pengembangan wakaf yang sudah dilakukan misalnya ternak di Kendari dan Bogor, wakaf sawah produktif di Bekasi, hingga greenhouse melon premium di Bogor," katanya.
Sementara itu, Ketua Divisi Pusat Kajian dan Transformasi Digital BWI Arief Rohman Yulianto mengatakan terdapat sekitar 500 ribu titik aset wakaf di Indonesia dengan nilai ekonomi mencapai sekitar Rp1.478 triliun.
"Kalau aset tersebut mampu menghasilkan manfaat sekitar 10 persen setiap tahun, seharusnya ada sekitar Rp147 triliun manfaat yang bisa dinikmati umat," katanya.
Namun, menurutnya, realisasi manfaat ekonomi wakaf saat ini baru mencapai sekitar Rp360 miliar.
Karena itu, ia berpandangan pengembangan wakaf produktif harus dilakukan melalui kolaborasi antarlembaga, bukan berjalan sendiri-sendiri.
"Kita harus membangun ekosistem wakaf produktif bersama agar manfaatnya semakin besar," ujarnya.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah DIY-Jawa Tengah Bagian Selatan Abdul Munir mengatakan pengelolaan wakaf produktif masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan mengelola aset wakaf.
"Masih banyak tanah kosong, kandang yang tidak terpakai, maupun kios yang belum produktif membutuhkan pengelola wakaf dengan keterampilan sehingga aset-aset tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas," katanya.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan wakaf produktif sangat ditentukan oleh tim pengelola yang kuat, amanah, dan profesional.
"Yang dibutuhkan adalah tim yang mampu mengelolanya secara profesional sehingga amanah masyarakat benar-benar menghasilkan manfaat," ujarnya.
Pewarta : Agung Dwi Prakoso
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026