Redaksi Akurat
| 2 September 2026, 17:52 WIB

ILUSTRASI: Situs makam kuno era Kesultanan Samudra Pasai ditemukan rusak di kawasan perkebunan PTPN IV Cot Girek, Aceh Utara. Peneliti CISAH temukan nisan inskripsi Arab abad ke-15 - Akurat Sumut/AI - Akurat Sumut/AI
AKURAT.CO Nusantara memiliki sejarah panjang dalam menerima dan mengembangkan ajaran Islam.
Di antara sekian banyak kerajaan di Tanah Air, Kerajaan Samudera Pasai memegang peranan monumental sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia.
Berlokasi di pesisir utara Sumatra, tepatnya di wilayah Lhokseumawe, Aceh, kerajaan ini tumbuh menjadi pusat perdagangan maritim yang sangat berpengaruh. Memahami sejarah Kerajaan Samudera Pasai secara tuntas membantu Anda melihat bagaimana Islam mulai mengakar kuat dan menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.
Baca Juga: Sistem Pemerintahan Kerajaan-kerajaan di Indonesia Kuno
Berdirinya Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai didirikan pada abad ke-13, sekitar tahun 1267 Masehi, oleh Marah Silu. Setelah memeluk agama Islam, Marah Silu menanggalkan gelar lokalnya dan mengambil gelar Sultan Malik as-Saleh. Beliau menjadi raja pertama yang memerintah kerajaan Islam tersebut.
Keberadaan Samudera Pasai dikonfirmasi oleh catatan para penjelajah dunia, seperti Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok dan Ibnu Battuta dari Maroko. Ibnu Battuta dalam perjalanannya pada tahun 1345 mencatat bahwa Samudera Pasai adalah kerajaan yang makmur, dipimpin oleh seorang raja yang taat beragama, bertoleransi tinggi, dan menerapkan syariat Islam dalam tatanan hukumnya.
Puncak Kejayaan dan Peran Ekonomi Maritim
Samudera Pasai mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 di bawah pemerintahan Sultan Malik az-Zahir. Beberapa faktor utama yang mendorong kejayaan kerajaan ini antara lain:
Pusat Perdagangan Internasional: Posisi geografisnya yang berada di tepi Selat Malaka menjadikan Samudera Pasai sebagai pelabuhan transit utama bagi pedagang dari Arab, India, Persia, Tiongkok, dan kawasan Nusantara lainnya.
Komoditas Utama Komersial: Samudera Pasai merupakan penghasil rempah-rempah terbesar, terutama lada berkualitas tinggi, yang menjadi komoditas buruan pedagang asing.
Penggunaan Mata Uang Dirham: Untuk mendukung transaksi perdagangan internasional, Samudera Pasai mencetak mata uang emas sendiri yang disebut Dirham. Hal ini membuktikan kemajuan sistem ekonomi dan moneter kerajaan saat itu.
Pusat Studi dan Penyebaran Islam: Samudera Pasai berfungsi sebagai pusat penterjemahan Al-Qur'an dan pengajaran ilmu agama. Banyak ulama dari Pasai diutus untuk mendakwahkan Islam ke kawasan lain, termasuk ke Pulau Jawa melalui peran awal Wali Songo.
Baca Juga: Faktor Runtuhnya Kerajaan Majapahit di Nusantara
Kemunduran dan Runtuhnya Samudera Pasai
Memasuki abad ke-15 dan ke-16, pengaruh Samudera Pasai mulai mengalami penurunan akibat beberapa faktor internal dan eksternal:
Serangan Kerajaan Majapahit: Pada abad ke-14, Majapahit melakukan invasi dalam upaya ekspansi wilayah, yang sempat melemahkan perekonomian Samudera Pasai.
Munculnya Kesultanan Malaka: Berdirinya Kesultanan Malaka di seberang selat menyedot perhatian para pedagang internasional, sehingga posisi pelabuhan Samudera Pasai perlahan tergeser.
Pemberontakan dan Konflik Internal: Perebutan tahta di dalam istana memperlemah benteng politik kerajaan dari dalam.
Pendudukan Portugis: Pada tahun 1521, bangsa Portugis menaklukkan Samudera Pasai. Sisa-sisa wilayah kerajaan ini kemudian diintegrasikan ke dalam wilayah Kesultanan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1524.
Kerajaan Samudera Pasai merupakan tonggak bersejarah dalam proses Islamisasi di Nusantara. Melalui kekuatan ekonomi maritim dan jaringan dakwahnya, Samudera Pasai telah meletakkan fondasi kebudayaan Islam yang sangat kuat bagi bangsa Indonesia.
Nasywa Mutiara Pratista (Magang)