Jumat, 2 Oktober 2026 - 20:44 WIB
Jakarta, VIVA – Program pencampuran biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50 persen atau B50 disebut telah memungkinkan Indonesia menghentikan seluruh impor diesel jenis CN 48 sejak 1 Juli 2026.
Baca Juga
Peneliti sekaligus dosen ekonomi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menyebut penghentian impor diesel menjadi salah satu capaian ekonomi yang paling terlihat dari kebijakan kedaulatan energi pemerintah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Hal tersebut disampaikan Yayan pada Kamis, 1 Oktober 2026. Menurutnya, kebijakan B50 membuat kebutuhan diesel yang sebelumnya dipenuhi melalui impor dapat dialihkan dengan memanfaatkan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit di dalam negeri.
Baca Juga
"Every liter of diesel that is no longer imported keeps money circulating within the domestic economy. Halting diesel imports through B50 is the clearest example of this," ujar Yayan.
Menurut perkiraannya, penghentian impor diesel melalui penerapan B50 berpotensi menghemat devisa Indonesia sekitar Rp170 triliun atau US$9,55 miliar setiap tahun.
Baca Juga
Indonesia Jadi Negara Pertama Terapkan B50
Indonesia secara resmi mulai menerapkan program B50 secara wajib pada Juli 2026. Kebijakan tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan campuran biodiesel sebesar 50 persen.
Program B50 merupakan kelanjutan dari kebijakan pemanfaatan biodiesel yang telah diterapkan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelum mencapai B50, Indonesia telah menjalankan program B30, B35, dan B40. Peningkatan persentase campuran tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperbesar penggunaan bahan bakar nabati dalam negeri.
Pemerintah menargetkan distribusi B50 dapat mencapai 100 persen di seluruh stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU) pada 1 Oktober 2026.
Emisi Diproyeksikan Turun 44,46 Juta Ton
Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor diesel, program B50 juga diproyeksikan memberikan dampak terhadap pengurangan emisi.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan penerapan B50 dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2 ekuivalen sepanjang 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Angka tersebut diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan manfaat lingkungan dan finansial yang diperoleh dari penerapan B40 pada 2025.
Dengan penggunaan biodiesel berbasis minyak sawit, pemerintah juga memperkirakan program tersebut dapat memberikan nilai tambah terhadap pengolahan crude palm oil (CPO) di dalam negeri.
Halaman Selanjutnya
B50 Diproyeksikan Dukung 2,1 Juta Lapangan Kerja