Awas, Lemak Perut Bisa Picu Diabetes hingga Penyakit Jantung

2026/08/14

CNN Indonesia

Jumat, 14 Agu 2026 19:16 WIB

Ilustrasi perut buncit
Ilustrasi. Lemak perut bisa memicu berbagai masalah kesehatan. (iStock/Staras)

Jakarta, CNN Indonesia --

Penumpukan lemak di rongga perut tidak sekadar membuat lingkar pinggang bertambah. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, mulai dari diabetes, hipertensi, gangguan kolesterol, hingga penyakit jantung.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PB Perkeni) Em Yunir mengatakan lemak di rongga perut memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan lemak di bagian tubuh lainnya.

Menurut dia, lemak tersebut berkaitan dengan berbagai proses metabolik dan dapat menghasilkan hormon yang memengaruhi kondisi tubuh. Karena itu, obesitas tidak cukup dinilai hanya berdasarkan angka berat badan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lemak di rongga perut itu lebih jahat dari lemak di tempat lain. Karena dia bukan hanya lemak ngumpul terus beratnya jadi tinggi, tetapi dia mengandung banyak hormon lain," kata Yunir dalam peluncuran Kampanye Edukasi Obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta yang digelar PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), Jumat (14/8).

Salah satu kondisi yang berkaitan dengan obesitas adalah resistensi insulin. Kondisi ini dikenal sebagai salah satu faktor risiko diabetes, tetapi juga dapat berperan dalam berbagai gangguan metabolik pada orang dengan obesitas.

Yunir menjelaskan penumpukan sel lemak, terutama di area rongga perut, dapat meningkatkan risiko diabetes, gangguan kolesterol, hipertensi, hingga penyakit jantung.

Risiko tersebut dapat semakin kompleks ketika beberapa gangguan metabolik muncul secara bersamaan, terutama seiring bertambahnya usia.

"Kalau sudah masuk usia 50-60 tahun, sudah muncul diabetes, tambah lagi dua, ada diabetes, ada kegemukan. Jadi ada mediator inflamasi yang terus bergerak di dalam tubuh kita," ujarnya.

Pilihan Redaksi

Berat badan bukan satu-satunya ukuran

Yunir mengingatkan berat badan yang tinggi tidak selalu menunjukkan seseorang memiliki massa lemak yang berlebihan. Kenaikan berat badan juga dapat dipengaruhi oleh massa otot. Karena itu, pemeriksaan komposisi tubuh diperlukan untuk mengetahui kondisi tubuh secara lebih menyeluruh. Pemeriksaan tersebut dapat membantu melihat jumlah lemak sekaligus massa otot.

"Jangan-jangan otot kita kurang, karena berat badannya tinggi itu bukan karena komponen ototnya, tetapi karena lemaknya. Jadi artinya nanti kita bisa mengatur treatment-nya yang lebih tepat," kata Yunir.

Selain pemeriksaan komposisi tubuh, masyarakat juga dapat memperhatikan lingkar pinggang sebagai salah satu indikator penumpukan lemak di perut.

Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa Kementerian Kesehatan menempatkan lingkar pinggang sebagai salah satu indikator lemak perut sekaligus penanda risiko penyakit kardiometabolik.

Berdasarkan konsensus Asia Pasifik, batas lingkar pinggang untuk obesitas adalah lebih dari 90 sentimeter pada laki-laki dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan.

Deteksi sejak usia muda

Yunir mendorong masyarakat mulai membiasakan deteksi dini sejak usia muda. Perubahan berat badan, bentuk tubuh, dan lingkar perut perlu diperhatikan secara berkala. Deteksi dini penting agar penumpukan lemak berlebih dapat diketahui sebelum berkembang menjadi berbagai gangguan metabolik.

"Kalau perutnya rata atau maju, kita biasakan mencari indikator-indikator ini," ujarnya.

Upaya tersebut juga perlu dibarengi dengan perubahan pola makan dan gaya hidup. Jika diperlukan, pemeriksaan komposisi tubuh dan konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat dilakukan untuk menentukan penanganan yang sesuai.

Sementara itu, Chief Operating Officer Commercialization PT Anugerah Pharminfo Lestari (APL) Ay Lie Widjaya mengatakan edukasi mengenai obesitas penting dilakukan karena kondisi tersebut masih kerap dipandang sebagai persoalan pribadi, seperti kurang disiplin atau malas.

Padahal, obesitas merupakan penyakit kronis yang membutuhkan penanganan dan dukungan yang tepat.

"Obesitas bisa dikelola dan ditangani dengan dukungan yang tepat. Tidak ada seorang pun yang bisa menangani sendiri," kata Ay Lie.

Menurut dia, kampanye edukasi #BeraniBicaraBerat diharapkan dapat mendorong masyarakat mengubah cara pandang terhadap obesitas serta berani mengambil langkah untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional. Dengan demikian, perhatian terhadap berat badan tidak hanya berfokus pada penampilan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan metabolik dalam jangka panjang.

(tis/tis)

placeholder