Astrid Widayani dilantik sebagai Ketua DPW Pertiwi Jawa Tengah

2026/10/03

Astrid Widayani dilantik sebagai Ketua DPW Pertiwi Jawa Tengah

Sabtu, 3 Oktober 2026 15:59 WIB

Image Print

Astrid Widayani resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Pertiwi Jawa Tengah di The Ballroom at Jakarta Theater, Jakarta, Kamis (1/10/2026). ANTARA/HO-PSI

Solo (ANTARA) - Astrid Widayani resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Pertiwi Jawa Tengah.

Pelantikan berlangsung di The Ballroom at Jakarta Theater, Jakarta, Kamis (1/10) pukul 14.00 WIB.

Dalam amanah barunya, Astrid mendapat tugas membangun struktur DPW Pertiwi Jawa Tengah, menyiapkan kepengurusan, memperluas jaringan hingga berbagai daerah, serta menggerakkan program pemberdayaan dan perlindungan perempuan dan anak.

Astrid mengatakan Pertiwi tidak boleh hanya menjadi organisasi dengan struktur yang lengkap. Organisasi tersebut harus menjadi ruang bagi perempuan untuk berkembang, mendapatkan akses, sekaligus memperoleh perlindungan ketika menghadapi persoalan.

“Bagi saya, perempuan berdaya bukan hanya perempuan yang punya kesempatan untuk berkembang. Perempuan juga harus merasa aman, terlindungi, punya akses terhadap layanan dasar, dan memiliki keberanian untuk menentukan masa depannya. Jadi pemberdayaan dan perlindungan harus berjalan bersama,” ujarnya.

Pertiwi merupakan perkumpulan lintas generasi yang menghimpun perempuan di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, politik, dan pemberdayaan UMKM. Keanggotaannya terbuka tanpa kewajiban memiliki KTA partai dan diarahkan menjangkau perempuan dari berbagai latar sosial, ekonomi, dan budaya hingga tingkat kampung dan kelurahan.

Organisasi ini membawa visi mewujudkan perempuan Indonesia yang berdaya, cerdas, dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa melalui gerakan yang bergerak nyata, memberdayakan, dan berdampak. Semangat tersebut dirangkum dalam tagline “Bergerak, Berdaya, Berdampak.”

Nama Dewi Pertiwi dimaknai sebagai Dewi Bumi atau Ibu Bumi, yang menjadi simbol sumber kehidupan, keibuan dan kesuburan, sekaligus semangat perempuan Indonesia dalam menopang dan membangun bangsa.

DPW Pertiwi memiliki sejumlah misi, mulai dari menjadi mitra strategis dalam menggalang kekuatan perempuan, menggerakkan kegiatan sosial dan kemanusiaan, meningkatkan kualitas pendidikan perempuan, memperluas kesadaran dan akses terhadap layanan kesehatan, merekrut serta membina perempuan muda sebagai kader politik, hingga memberdayakan perempuan pelaku UMKM melalui pelatihan, pendampingan dan perluasan jaringan usaha.

Salah satu agenda yang akan didorong Astrid di Jawa Tengah adalah deklarasi “Perempuan Berdokumen”. Program ini diarahkan untuk memastikan perempuan memiliki dokumen kependudukan yang lengkap dan valid.

Astrid menilai dokumen kependudukan bukan sekadar urusan administrasi, melainkan pintu untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, layanan sosial, perlindungan dan berbagai kesempatan.

“Dokumen kependudukan itu bukan sekadar selembar administrasi. Di balik dokumen ada akses terhadap pendidikan, kesehatan, layanan sosial, perlindungan dan berbagai kesempatan lainnya. Karena itu, kita ingin memastikan perempuan di Jawa Tengah tidak kehilangan hak hanya karena persoalan administrasi,” kata Astrid.

Ia juga mengaitkan persoalan dokumen dengan perlindungan perempuan dan anak, khususnya kelompok rentan.

“Jangan sampai ada perempuan atau anak yang tidak terlihat karena tidak tercatat. Kita ingin mereka hadir dalam data, hadir dalam layanan, dan hadir dalam perhatian kita. Dengan begitu, ketika ada persoalan, negara dan masyarakat punya dasar untuk memberikan perlindungan dan pendampingan,” ujarnya.

Gerakan Pertiwi juga mencakup advokasi perempuan dan anak, pendidikan, kesehatan, sosial, olahraga hingga politik. Ketua Umum Dewi Pertiwi Fenty Noverita sebelumnya menyebut organisasi tersebut memiliki 14 departemen, salah satunya bergerak di bidang advokasi perempuan dan anak. Fenty juga menekankan luasnya ruang kerja perempuan, mulai pendidikan, kesehatan, sosial, olahraga hingga politik.

“Jadi sebenarnya kerja-kerja perempuan di wilayah itu banyak sekali. Ada pendidikan, kesehatan, sosial, olahraga hingga politik,” ujar Fenty.

Astrid mengatakan penguatan perlindungan harus berjalan bersama peningkatan kapasitas perempuan. Pendidikan, keterampilan, jejaring, kewirausahaan dan kepemimpinan diperlukan agar perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi mampu menjadi penggerak di lingkungannya.

“Perempuan punya banyak potensi yang sering kali hanya membutuhkan kesempatan. Tugas kita adalah membuka kesempatan itu, memperluas aksesnya, lalu membangun lingkungan yang membuat mereka berani mencoba dan berkembang. Ketika satu perempuan tumbuh, dampaknya bisa dirasakan oleh keluarga dan lingkungan di sekitarnya,” tutur Astrid.

Menurut Astrid, Pertiwi Jawa Tengah tidak akan dibangun dengan pendekatan seragam. Pemetaan potensi dan kebutuhan perempuan di setiap kabupaten dan kota akan menjadi dasar penyusunan program.

“Jawa Tengah sangat luas dan karakter setiap daerah berbeda. Kita tidak ingin datang membawa program yang semuanya sudah jadi. Kita ingin mendengar dulu, melihat kebutuhan di lapangan, lalu bersama-sama menyusun apa yang memang dibutuhkan perempuan di daerah tersebut,” katanya.

Astrid juga menekankan kolaborasi dengan komunitas, organisasi perempuan, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, pelaku usaha, lembaga layanan dan berbagai elemen masyarakat.

“Kalau bicara perempuan dan anak, tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Ada persoalan pendidikan, kesehatan, ekonomi, kekerasan, perlindungan dan administrasi. Semuanya saling berhubungan. Karena itu, kekuatan Pertiwi nantinya harus ada pada kemampuan membangun jejaring dan menghubungkan banyak pihak untuk bekerja bersama,” ujarnya.

Pengalaman Astrid di bidang pendidikan menjadi salah satu bekal dalam menjalankan amanah tersebut. Ia pernah menjadi akademisi dan dipercaya memimpin Universitas Surakarta. Astrid juga aktif dalam pengembangan generasi muda serta pemberdayaan UMKM melalui Jawara UMKM.

Di ranah politik dan kaderisasi, Astrid saat ini dipercaya sebagai Ketua DPD PSI Kota Solo sekaligus Kepala Sekolah Partai DPP PSI periode 2025-2030. Posisi Kepala Sekolah Partai DPP PSI periode tersebut tercantum dalam struktur kepengurusan PSI yang diumumkan pada 2025.

Pengalaman di dunia pendidikan, organisasi, kaderisasi, pemberdayaan masyarakat dan pemerintahan tersebut akan dibawa Astrid dalam membangun Pertiwi Jawa Tengah.

Setelah pelantikan, Astrid akan memulai konsolidasi untuk menyusun struktur DPW Pertiwi Jawa Tengah sekaligus membangun komunikasi dengan jaringan perempuan di kabupaten dan kota. Pemberdayaan, perlindungan perempuan dan anak, Perempuan Berdokumen, peningkatan kapasitas, penguatan UMKM perempuan serta perluasan jejaring hingga akar rumput menjadi bagian dari pembahasan program organisasi.

“Target kita bukan sekadar punya struktur sampai daerah. Saya ingin setiap struktur yang terbentuk punya kehidupan, punya kegiatan, punya gagasan dan punya dampak. Kita ingin perempuan Jawa Tengah bukan hanya semakin berdaya, tetapi juga semakin terlindungi dan memiliki akses yang sama terhadap kesempatan serta layanan yang menjadi haknya,” pungkasnya.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.