Tampil perkasa hingga melangkah ke babak pamungkas di Nagoya City Higashi Sport Center, atlet berusia 21 tahun itu harus mengakui keunggulan wakil Myanmar, Wai Khin Hnin, lewat duel sengit tiga set dengan skor akhir 12-10, 8-12, dan 9-12.
Meskipun harus puas membawa pulang medali perak, Sumaya tetap merasa bangga atas perjuangan pantang menyerahnya di atas lapangan. Ia mendedikasikan pencapaian ini untuk keluarga serta seluruh masyarakat Indonesia.
"Saya bangga dengan diri sendiri walaupun kalah. Saya ingin latihan lebih keras lagi. Medali perak ini saya persembahkan untuk diri sendiri, keluarga, dan negara," kata Sumaya.
Sumaya juga menuturkan, bahwa beberapa kesalahan kecil di poin-poin kritis menjadi bahan evaluasi utamanya ke depan.
"Sebenarnya pikiran saya cuma ingin satu poin naik, tetapi karena banyak kesalahan jadi susah untuk menang. Saya masih penasaran untuk mengalahkan Myanmar itu. Next mungkin harus lebih banyak latihan lagi," tuturnya.
Atmosfer pertandingan di Nagoya City Higashi Sport Center kian membakar semangat Sumaya lantaran dihadiri langsung oleh jajaran pejabat olahraga nasional, mulai dari Menpora RI Erick Thohir, Presiden NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari, hingga CdM Tim Indonesia Todotua Pasaribu.
Keberhasilan Sumaya menembus podium Asian Games 2026 bertumpu pada perjalanan karier yang unik.
Menekuni sepak takraw sejak jenjang SMP, Sumaya sempat gagal menembus skuad PON XXI Aceh-Sumut 2024. Momen tersebut justru menjadi pintu rezeki baginya untuk beralih ke cabor teqball.
"Kalau sulit, lebih sulit teqball. Gerakannya berbeda, mejanya kecil, tapi saya lebih menikmati main teqball karena lebih menantang. Sampai sekarang, saya tidak menyesal pindah (cabor) ke teqball," jelas Sumaya.
Secara keseluruhan, cabor teqball sukses menyumbang satu medali perak lewat Sumaya dan satu medali perunggu melalui Yoga Ardika Putra bagi Merah Putih di Aichi-Nagoya 2026.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Teqball Seluruh Indonesia (POTSI), Calvin Legawa, menyambut gembira capaian bersejarah anak-anak asuhnya tersebut.
"Ini sebuah pencapaian, artinya sejarah juga buat teqball Indonesia. Untuk pertama kali debut di Asian Games, kita berhasil membawa pulang medali," jelas Calvin.
Ia pun optimistis potensi teqball Indonesia akan kian melejit di masa depan.
"Kalau kita dipersiapkan lebih panjang, saya rasa potensi Indonesia di teqball sangat besar, karena basic-nya ada di bola dan sepak takraw," Calvin menuntaskan.