REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membara di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Berdasarkan data pemerintah, hingga pertengahan Oktober 2026 sekitar 639 hektare lahan di enam provinsi yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi, masih dalam proses pemadaman.
Kondisi ini meningkatkan risiko paparan asap bagi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak. Dokter sekaligus Sekretarias Jenderal Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI) dr Putro S Muhammad mengatakan asap karhutla dapat mengganggu sistem pernapasan anak dan bayi.
"Bayi menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap paparan asap karhutla karena kondisi saluran pernapasan bayi yang masih sempit, frekuensi napas yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa, serta sistem kekebalan tubuh yang belum matang," kata dr Putro saat dihubungi Republika, Rabu (14/10/2026).
la kemudian mengungkap tanda bahaya akibat paparan asap karhutla pada bayi dan anak. Pada bayi berusia di bawah dua bulan, waspadai jika mereka mengalami napas cepat hingga 60 kali per menit atau lebih. Sementara itu, pada bayi usia 2-12 bulan, batasnya 50 kali per menit atau lebih, dan pada anak usia 1-5 tahun sebanyak 40 kali per menit atau lebih.
"Jika anak mengalami tanda itu segera bawa ke UGD atau layanan kesehatan terdekat," kata dr Putro.
Selain napas cepat, orang tua perlu memperhatikan tarikan dinding dada ke dalam, cuping hidung yang kembang-kempis saat bernapas, serta munculnya bunyi napas yang tidak biasa. Perubahan warna bibir atau kuku menjadi kebiruan juga merupakan tanda bahaya yang membutuhkan pertolongan medis segera. Begitu pula jika anak tampak lemas, tidak mau menyusu, sulit dibangunkan, atau mengalami henti napas lebih dari 20 detik.
"Orang tua juga harus segera mencari pertolongan medis apabila anak mengalami batuk hingga muntah atau sesak napas yang disertai demam tinggi," ujar dr Putro.
Dokter Putro mengungkapkan, paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek, anak-anak berisiko mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bronkiolitis, kekambuhan asma, hingga pneumonia.
Paparan yang berulang atau berkepanjangan berpotensi menyebabkan peradangan paru kronis, penurunan fungsi paru, serta meningkatkan risiko asma dan bronkitis berulang. Paparan asap dalam jangka panjang juga bisa mengganggu tumbuh kembang anak.
"Anak bisa mengalami bangguan tidur dan nafsu makan, bukti awal gangguan saraf atau kognitif. Meskipun untuk yang terakhir ini masih diteliti," kata dr Putro.